Sabtu, 16 Desember 2017

kok bisa di Daarut Tauhiid Peduli?



Assalamualaikum sahabat-sahabat yang dirahmati Allah SWT. hari ini saya mau bercerita perjalanan saya hingga sampai di takdir yang istimewa ini. Apa ituu?? yaa berhasil menjadi bagian dari keluarga besar Daarut Tauhiid Peduli. Buat saya ini adalah sebuah takdir yang istimewa, karena disinilah saya belajar lebih lagi tentang luasnya Islam, lembutnya Islam, dan nilai-nilai kebaikan dalam Islam

Jadi pada awalnya di semester enam saya punya keinginan untuk belajar tentang akuntansi syariah, karena kebetulan saat itu saya kenal dengan seorang dosen yang punya semangat luar biasa kecintaannya dengan akuntansi syariah, beliau bernama Bu Nur, begitulah saya dan teman-teman memanggil beliau. Beliau selalu share berbagai berita mengenai perkembangan akuntansi yang sesuai syariat Islam dan  bagaimana Indonesia telah membantu menghidupkan syariat tersebut. Sahabat bisa buka infonya di Republika.com atau sejenisnya (koran online) disana ada berita khusus mengenai syariah. Jadi dari membaca jugalah saya berkeinginan untuk tau lebih jauh mengenai ini. Jadi, sebagai anak akuntansi yang  awalnya saya belajar mengenai akuntansi kontemporer dan kapitalis hehe, saya hijrah untuk belajar lebih jauh bagaimana Islam mempergunakan Akuntansi untuk jihad dijalan Allah. Takbir ! Allahu Akbar. 

Setelah itu saya belajar mengenai akuntansi yayasan dan zakat. Saya berpikir “wah ternyata lebih mudah ya” hehe. Kelihatannya sih gitu. Mungkin karena aktivitasnya juga tidak sebanyak perusahaan manufaktur, selain itu juga peraturan syariah masih sedikit, bisa di search aja di google PSAK Syariah, kalau dibandingkan dengan PSAK yang kontemporer lebih banyak aturan kontemporer (saking banyaknya sayapun gak hafal udah ada berapa hehe). Dan sedikit informasi buat sahabat disini, kalau tidak salah pada awal November kemarin telah disahkan akuntansi pesantren di acara ISEF Surabaya, wah keren kan? Tentunya.

Dari segalah rasa ketertarikan dan perasaan yang menggebu-gebu itu, saya ingat bahwa ada yayasan yang keren banget versi saya. Namanya Daarul Qur’an milik ustadz Yusuf Mansyur. Saya bercita-cita menjadi akuntan di pesantren beliau ataupun jadi bagian dari keluaga besar Daarul Qur’an. Katanya sih di Malang ada PPPA Daarul Qur’an tapi saya belum tau lokasinya dimana, belum sempat juga untuk keliling dan cari lokasinya. Akhirnya iseng nulis panjang lebar ke ustadz Yusuf lewat instagram. Dan pada akhirnyaa..... gak dibales wkwk. Ya wajarlah lah ya.. ustadznya satu fansnya banyak hehe. Yang komen dan DM di IG beliau juga pasti ratusan atau bahkan ribuan. Kemudian setelah kirim pesan ke ustadz, do’a disetiap shalat saya jadi bertambah satu “ya Allah aku  mau di yayasan atau sebagainya, dimana aku bisa menerapka ilmuku untuk agamaMu, tapi ya Allah aku mau di Daarul Qur’an”. Itulah do’a saya, ada kata “tapi”nya, jadi kayak gimana gitu ya, maksa sama Allah hhe. Itu deh di ulang-ulang terus sampai suatu ketika Allah memberikan jawabannya.

Pagi itu, insyaaAllah kalau tidak salah ahad pagi. Sahabat saya di Brawijaya mengirimkan pesan singkat di grup SMB (nanti say ceritakan soal SMB). Nama sahabat saya Rida (ada yang tau?).  Dia calon Dokter Hewan salehah, jadi nanti kalau hewan sahabat ada yang sakit bisa ni hubungi sahabat saya hhe. Nah jadi dia kirim pesan begini sahabat 

“ada yang mau kencleng sedekah?”

Nah namanya juga grup SMB (Sahabat Muslimah Bondowoso) yang isinya insyaallah wanita salehah ya (aamiin), jadi banyak yang tertarik termasuk saya dan Ukhti Laila. Setelah dapat penjelasan dari Rida, saya mantep mau satu kencleng sedekah. Dan akhirnya Rida nganter kenclengan itu ke kos. Pertama pegang kenclengnya “ih lucu banget”, kalian berpikir saya alay ya? Nggak loo yang lain juga berpikiran yang sama hehe. Saat itu saya belum berpikiran jauh kencleng ini siapa yang menghimpun. Tertulis dikencelang itu “Daarut Tuhiid”. Dan disitu saya mah cuek-cuek aja, yang penting sedekah gitu. Ternyata takdir kenceleng itu gak berhenti disana sahabat. Ada seorang ikhwan yang menghubungi saya, namanya Akh Wahid. Beliau ternyata kating (kakak tingkat) sahabat saya, Rida. Akh Wahid mengirimkan pesan singkat juga ni, bilang 

“dek mau gak anti bawa kenceleng lebih banyak? Sekaligus anti jadi koordinator POLINEMA”

Wah disitu saya galau mendadak wkwk. Karena kan saya sudah semester enam setelah itu skripsi. Jadilah waktu itu saya berpikir. “kalau dibawa, kira-kira ada yang mau gak ya sama kencleng ini?”, “kalau gak ada yang mau, gimana ya? Masa iya mau dikembalikan”, "berarti kudu antar jemput kencleng dong, sempet gak ya?". Nah seharian berpikir kemudian saya dapat jawabannya. Saya bersedia membawa kencleng itu dengan niat Lillahita’ala. Kan katanya kalau karena Allah udah ada jalannya, udah tersedia kebaikan-kebaikan dan jalan terbaiknya, tinggal sabar ajaa. Ya gak? Hehe. Awalnya dikasi 6 kencelang dan dalam waktu 1 hari kencleng itu sudah ada pemiliknya, alhamdulillah. Tinggal laporan ke akh Wahid. Dan akhirnyaaa ditambain lagi kenclengnya gaaess.. katanya gini “wah anti ternyata cepat ya, saya tambah kenclengnya lagi ya?”. Awalnya galau lagi, tapi capek ya galau lama-lama, dengan hati ikhlas akhirnya saya terima kencleng lagi, kalau tidak salah ada 20 kencleng saat itu. Dan alhamdulillah ludess.. dibantu juga sama ukh laila yang kebetulan juga jadi koordinator di POLKESMA. Karena bawa kenclengnya banyak, jadi saya dapat brosur dan majalah. Saat itulah saya terpana, terkesima, ter ter ter yang lain saat saya membuka brosur dan majalahnya. Kenapa? Karena yang menjadi pimpinan di Daarut Tuhiid, yang kenclengnya ada di saya ini adalah Aa Gym gaaeess.. gk tau sih waktu itu aku bahagia, bangga juga.

Setelah perjalanan perkenclengan itu. Akhirnya Ramadhan tibaaaa, yeey hehe.. Ramadhan tiba dengan segala kemanisan sirup marjan dan ramainya antrean saat menjelang maghrib. Meskipun saya full Ramadhan tanpa keluarga dan kampung halaman, tapi nikmatnya tetap sama kok. Nikmat dengan segala karunia Allah yang limpahannya tiada tara. Termasuk nikmat yang satu ini. Pada akhirnya ada pesan dari Akh Wahid.

“dek anti dan ukh laila mau ana ajak ke Daarut Tauhiid” wah seneng banget kan jadinya.

Jadilah kita bertiga saat itu ke kantor Daarut Tuhiid. Bertemu dengan ustadz Arif yang ramaaah bangget. Ketemu sama Pak Dedy yang juga gak kalah ramah. Ada ukhti Ika juga, ternyata Ukhti Ika adalah sahabat Ukh Laila di Majelis Al-ghifari. masyaaAllah ternyata dunia ini sempit ya. Kita berkumpul di kantor Daarut Tuhiid yang bersih dan wangi banget. Kata ustadz, Daarut Tuhiid selalu menanamkan nilai-nilai kebersihan dan kerapian karena kebersihan sebagian dari iman seorang muslim. Jadi harus ditunjukan tu. Ustadz dan lainnya menyambut kami dengan sangat baik. Banyak hal yang diceritakan oleh beliau. Ustadz mengajak kami bergabung aktif di Daarut Tuhiid, dakwah lewat kencleng itu. Dan ternyata Daarut Tuhiid Peduli baru tiga bulan berdiri. Tambah bahagia dong dapat berita itu, karena itu berarti yang berada di kantor itu juga sedang belajar bersama membangun Daarut Tuhiid Peduli dan saya juga ada dalam bagian itu. Fix akhirnya riska jadi bagian dari Daarut Daarut Tuhiid Peduli. Alhamdulillah... setelah itu saya ikut kegiatan-kegiatan DT Peduli yang lain, seperti membagikan zakat, terus berjuang dengan kencleng dan ketemu sama sahabat-sahabat yang hebat dalam dakwah. Waktu itu Ramadhan saya benar-benar dapat keluarga baru yang luar biasa di Malang tempat saya merantau.

Ketika doa-doa saya terjawab, saya berhenti sejenak menikmati karuniNya. Kenapa saya mengatakan “doa saya terjawab” padahal saya kan tidak ditakdirkan di Daarul Qur’an? Hehe. Sahabat ingat tidak dengan firman Allah yang satu ini 

“Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (QS. Al-Baqarah : 216)

Dalam ayat itu Allah ingin menjelaskan pada kita bahwa Allah tau tempat terbaik untuk kita sahabat. Mungkin kalau saya di Daarul Qur’an tidak akan mendapatkan euforia perjuangan membangun sebuah lembaga dari awal, ya kan?. Jalani takdir terbaik dengan versi Allah itu membahagiakan, seperti kita berjalan diatas taman bunga yang sudah ada jalan khusus untuk kita. Yang artinya, Allah bimbing, mempermudah kita bertemu dengan kebaikan-kebaikan yang lain.

Mungkin ini agak gak nyambung kenapa saya tiba-tiba nanya, pernah dengar lagu edqoustic yang berjudul sepotong episode? Ini dia liriknya

sepotong episode masa lalu aku
episode sejarah yang membuatku kini
merasakan bahagia dalam diin-Mu
merubah arahan langkah di hidupku

kalimat dalam lagu ini, mewakili apa yang saya jalani selama ini. Bahwa sepotong episode yang telah terjadi dalam hidup saya begitu mudah membuat saya berubah haluan menuju jalanNya. Tapi saya tau perjalanan ini bukanlah perjalanan yang mudah sahabat. Amanah besar menunggu diujung sana (nanti saya akan ceritakan lebih banyak). Bukankah Allah telah berfirman 

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-ankabut :2)

Jadi, perjalanan masih panjang. Semoga Allah selalu memberikan kesabaran dan keistiqamahan kepada saya dan teman-teman di Daarut Tauhiid mengemban amanah-amanah kedepannya. Aamiin Allahumma aamiin.