Sabtu, 28 Januari 2017

Sahabat Sesurga



Kutemukanmu dalam Ramadhan
(sahabat sesurga)

Namaku… emm.. sepertinya aku tak perlu memperkenalkan diri. Karena dengan membaca cerita ini kalian akan tau. Siapa nama dan bagaimana kisahku. Insyaa Allah.
            Aku adalah anak perempuan biasa yang hidup sederhana. Pengetahuan mengenai agamaku kurang. Pergaulanku tak buruk. Hanya saja, aku tak tau mengapa aku tak berhijab, dan alasan mengapa orang islam berhijab. Aku Islam, namun apa itu Islam. Hatiku belum bisa menerjemahkan itu. Namun pada ahirnya aku memilih untuk memulai masa SMAku dengan mengenakan hijab
Tahun 2012
            Setelah lulus SMP aku memutuskan untuk mengenakan hijab. Dengan alasan “sepertinya aku terlihat lebih cantik kalau berhijab hehe” ucapku didepan kaca.
            “ris.. ikut ini yuk” ira menunjukkan sebuah pamflet padaku. Tertulis ‘PESANTREN RAMADHAN’
            “eh? Kamu gak salah ngajak aku?” jawabku dengan heran
            “nggaklah.. sebentarlagi kan Ramadhan, jadi momen yang pas mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Kamu kan juga baru ber-hijab ni” sambil memegang jilbab putihku
            Aku hanya menatap pamflet itu dan wajah ira bergantian. Aku hanya bertanya-tanya. Apakah bisa anak sepertiku ikut pesantren Ramadhan. Pesantren itu kan berat. Tidur Cuma sebentar.
            “trus.. kamu ikut kan?” tanyaku dengan berharap
            “nggak, aku jadi panitia” jawab ira
            Aku kecewa dengan jawabannya.
            Ira menceritakan semua pengalamannya dulu saat mengikuti pesantren Ramadhan. Dia menceritakannya dengan semangat. Dan membuatku memutuskan….
            “ya aku ikut"
            Keputusan menentukan masa depan. ya masadepanku di Ramadhan kali ini akan berubah.
            Hari-hari berlalu. Tidak ada rasa ragu dan takut untuk menghadapi Ramadhan yang akan berbeda di tahun ini. 
                   Hingga hari perubahan itu tiba. H-1 Ramadhan adalah waktu yang aku tunggu untuk berangkat ke tempat Pesantren Ramadhan. Aku mengenakan baju muslim putih, rok hitam dan hijab berwarna putih. Pagi ini aku nampak berbeda. Bukan, ini bukan kemauanku. Ini adalah ketentuan dari panitia.
            “assalamualaikum, pak buk Riska berangkat” ucapku pada orang tuaku yang saat itu berdiri didepanku
            “wa’alaikumsalam, hati-hati” ucap bapak ibu-ku
            Aku mencium tangan kedua orang tuaku seakan  pergi untuk waktu yang lama. Wajar saja, ini adalah pertama kali aku jauh dari orang tua. Namun saat ini tak ada rasa bersalah sedikitpun karena telah memilih merelakan 2 minggu Ramadhanku dengan orang lain.
            Akupun berangkat dengan menaiki becak. Maklum dirumah tak ada mobil yang bisa membawa banyak barangku ini. Sesampainya di tempat.
            “Assalamu’alaikum dik, mari saya bantu” terdengar suara lembut dari hadapanku
            “eh iya? Wa’alaikumsalam” jawabku sambil merogoh uang untuk pak becak
            “nama saya Azizah” perempuan itu mengulurkan tangannya, nampaknya dia lebih tua dariku
            “riska” jawabku singkat sambil membalas uluran tangannya
            Aku berjalan di belakang mbak azizah. Aku perhatikan dengan seksama bangunan yg berdiri megah dihadapanku. Masjid Agung kotaku. Masjid Agung At-taqwa. Aku heran, mengapa aku baru merasakan kekaguman akan Masjid yang megah ini. Sedangkan aku hidup di kota ini hampir 17 tahun. Sesekali aku mengarahkan pandanganku pada mba Azizah, perempuan anggun dengan suara yang lembut. Hijabnya panjang dan memakai gamis. Sepertinya, dia sangat baik.
            Sesampainya di ruang panitia. Aku melihat semua memakai baju seperti mba Azizah. Berseragam. Mereka berbeda dengan penampilan teman-temanku disekolah. Sebenarnya wajar-wajar saja perempuan memakai hijab dan gamis, hanya saja aku melihat mereka berbeda. Mungkin karena semua memakai baju yang sama dan di lingkungan masjid. Emm mungkin begitu.
            Sesampainya di asrama, aku bertemu dengan perempuan-perempuan lainnya. Disini, peserta perempuan dan laki-laki tidak boleh bertemu. Kecuali jika ada materi ustadz yang mengharuskan antara perempuan dan laki-laki berkumpul dalam satu ruangan.  Ribet, pikirku saat itu.
            “baiklah sekarang kalian ada tes mengaji ya” kata salah seorang panitia Pesantren Ramadhan
            “waduh.. pakai tes segala” kata seorang teman di belakang, namanya Annisa. Dia teman yang lucu. Aku baru saja mengenalnya saat baru masuk asrama.
            Saat itu aku juga merasa takut. Sudah lama aku tidak mengaji. Apa masih ingat huruf-huruf hijaiyah dan hukum bacaannya. Tanganku tiba-tiba menjadi dingin dan ahirnya tibalah giliranku.
            “baik, silahkan duduk dik” kata seorang panitia yang entah siapa namanya, namun dengan melihat dia bersikap, aku tau dia baik dan sedikit membuatku lega.
            “dik Riska ya?” Tanya-nya padaku
             “iya mbak” jawabku sambil melihat Al-qur’an yang ada dihadapanku
            “nama saya Zahra. Gak usah grogi ya..” sambil mengumbar senyum padaku.
            Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
            “coba dik Riska baca surat ini ya” menunjuk surat Al-Mulk
            Aku membaca surat Al-Mulk dengan terbata-bata. Entah apakah aku yang grogi atau ilmu mengajiku sudah hilang.
            “alhamdulillah, dik Riska ngajinya sudah baik, kalau terus berlatih pasti lebih baik lagi. Di kelompok D ya dik”  mbak Zahra memberikan ID Card dan menuliskan kelompok D di bawah namaku.
            Aku keluar dengan perasaan lega.
            “hai.. aku di A” suara Annisa mengagetkanku.
            “aku di D” jawabku singkat
            Lalu apa bedanya A dan D. toh sama saja. Tapi saat itu aku merasa sangat buruk dibandingkan yang lain. Apakah aku terburuk? Seburuk inikah hasil pembelajaranku di dunia?. Segitu sajakan persiapanku untuk akhirat?. Saat itu aku berpikir mengenai amalku, mengenai diriku, mengenai aku di dunia ini. Aku terdiam.
            Malam-malam di munggu pertama akan menjadi malam yang berat untukku. Hanya ada jatah 2 jam untuk tidur dan sekolah tetaplah berjalan seperti biasa. Aktifitasku di asrama adalah mengaji, menghafal surat-surat di Juz Amma dan banyak ibadah lainnya. Pemberian materi oleh ustadz dari pagi hingga jam 10.00 malam . setelah materi kami tidak bisa langsung menuju asrama. Masih ada shalat hajat dan kemudian pemberian hukuman.
            “riska, annisa, Fasya, kemari” suara mbak Hani selaku panitia Keamanan memanggil dengan nada yang tegas
            Saat itu aku sangat ingin berbaring diatas tikar dan bantal dari tas sekolah yang kubuat sendiri. Namun, hukuman tetaplah hukuman yg harus dijalani, terpaksa aku menjauh dari tikar yg sedari tadi memanggil untuk ku berbaring diatasnya.
            “karena kalian telat pulang ke asrama, kalian mendapat hukuman membaca yaa sin 1 kali” kata mbak Hani sambil menatap kami
            “yess, aku lagi haid mbak, jadiii…” Annisa Nampak senang
            “oke, annisa. Istighfar 300 kali” kata mbak Hani menyela ucapan Annisa
            “hihihihi” aku dan Fasya tertawa keci
Annisa kecewa. Aku dan Fasya langsung merangkulnya “tenang aja, kita bareng-bareng kok” ucapku padanya.
            Malam itu, adalah malam ke 4, ini adalah malam-malam yang berat. Sudah banyak yang gugur dari pesantren Ramadhan ini. Entah karena Ia sakit atau sudah tidak betah lagi dengan aturan dan jam yang padat. Jika boleh jujur, sebenarnya aku sangat merindukan rumah, kamarku, dan masakan ibu.
            Hari-hariku biasa saja. Yaa aku menjalani hari-hariku disini dengan berat. Bahkan tidur di jam kajian bersama Ustadz menjadi hobiku saat itu. Bahkan sampai salah seorang teman membangunkanku, ustadz hanya mengatakan
            “biarkan saja, dia mengantuk”
Heran, mengapa beliau tidak marah padaku.
Berat. Aku ingin pulang..
            “asslamu’alaikum adik-adikku” ucap salah seorang panitia. Ternyata mbak Azizah. Dia datang bersama dengan panitia putri yang lain. Dan ada satu orang yang membuatku penasaran padanya. Siapa dia.
            “ini adalah mbak Aisyah Azzahra” Mbak Azizah memperkenalkan perempuan yang sedari tadi menarik perhatikanku.
            Malam itu adalah sesi curhat dengan panitia dengan bintang tamu mbak Aisyah yang datang dengan kelembutannya hehe. Ada kalimat yang aku ingat saat itu, dia bilang
            “ribet ya disini, capek ya disini, iyaa.. keluhan itu ada karena kita belum tau apa tujuan kita disini. Lakukanlah semua ibadah disini dengan niat karena Allah dik. Karena apapun yang melelahkan, jika Lillah, maka semua akan mudah kita jalani”
            Malam itu, sebelum aku tidur, aku berpikir. Mengapa takdir membawaku ada di ruangan sempit bersama teman-teman yang baru aku kenal ini. Rela tak ada bantal, tak ada kasur yang empuk, rela hanya tidur selama 2 jam dan rela-rela melakukan apapun yang menurutku tidak mengenakkan. Yang terpenting adalah, mengapa aku disini? Mengapa?
             Minggu pertama berahir. Dengan satu pertanyaan “mengapa?”.  Saat semuanya telah usai shalat tarawih. Semua peserta putri berkumpul diruang kajian. Kali ini dengan Ustadz Imam. Seperti biasa, aku mengantuk.
            “nak, apakah kalian senang berada disini?” Tanya ustadz pada kami
            Semua diam dan hanya mengumbar senyum.
            “coba kalian lihat diluar sana” ustadz berkata sambil mengarahkan pandangannya kearah jendela. Aku dan teman-teman-pun ikut mengarahkan pandangan kami ke dua jendela besar disebelah kanan kami. Kemudian ustadz melanjutkan.
            “kalian patut bahagia. Kalian haruslah bahagia. Karena mereka yang diluarsana tak seberuntung kalian yang ada di dalam rumah Allah ini anak-anakku”. Beliau menatapku dan teman-teman dengan tatapan yang begitu dalam, seperti tatapan seorang ayah pada anaknya.
            Mungkin inilah jawaban dari pertanyaanku. Tuturku dalam hati
            “kalian adalah pilihan. Anak-anak pilihan yang telah Allah pilih untuk hadir disini, lebih dekat pada Allah. Mungkin ada diantara kalian yang berangkat dengan tujuan yang tak jelas. Namun hati kecil kalian berkata, “ya aku harus berangkat”. Itulah Allah yang menggerakkan hati kalian. Lihatlah diri kalian, dan kemudian lihatlah teman-teman kalian. Lihatlah semua orang yang ada disini. Kalian dipertemukan karena Allah. Disini, di rumahNya. Kalian orang-orang pilihan, jangan menyerah walau lelah, walau rindu rumah, karena Allah ada disini bersama kalian, menemani kalian untuk menuju jalanNya”
            Aku tertunduk dan meneteskan air mata. inilah jawaban yang aku cari. Ini jawaban dari semua hal yang aku lakukan disini. Pertemuanku dengan ira siang itu, pertemuanku dengan mbak Azizah, kegelisahan yang tak pernah aku rasakan saat melangkahkan kaki di tempat ini, pertemuanku dengan Annisa, mbak Aisyah, Fasya, ustadz Imam dan semuanya. Itulah pertemuan yang telah Allah rancang untukku, untuk mereka juga.
Yang jelas, yang aku tau, saat ini Allah sedang mendekapku dalam pelukannya yang hangat. Dia begitu sabar untuk menungguku mengerti akan arti bersusah payah dalam setiap waktu.
Setelah berhari-hari aku lakukan semua hal disini karena panitia. Namun kali ini, dengan sisa waktu yang ada, insyaa Allah aku akan lakukan semuanya karena Allah.
Setiap pagi aku sambut dengan semangat yang membara. Sejak saat itu aku tak pernah telat untuk datang makan sahur, kajian dan belajar ngaji. Tak ada lagi tidur dikajian ustadz, dan tak ada lagi catatan emoticon sedih dibuku catatan kajianku. Hingga ahirnya semua usai…
“selamat ya dik riska, sudah jadi top ten santri untuk tahun ini”
“makasi mbak”
Malam itu. Aku memeluk mbak Azizah dan semua panitia. Aku berpelukan dengan mereka dengan tanda terimakasi yang sangat banyak. Untuk pengalaman dan kesabaran mereka menghadapi aku yang begitu sulit memulai kehidupanku di Masjid Allah ini.
“risskaaaa…. Hahah.. meskipun kita pernah dihukum, kita tetap jadi yang terbaik kan”
Annisa datang dengan wajah ceria. Dia memelukku secara tiba-tiba. Malam ini kami mendapatkan penghargaan sebagai santri terbaik dari semua santri yang mengikuti pesantren Ramadhan ini. Namun aku tak memperdulikan itu. Karena, pengalaman disini lebih berharga dari apapun. Dan penghargaan dari Allah untukku lebih aku utamakan. Aku akan hijrah, memulai hidupku yang baru, hidupku yang indah dengan sejuta cintaNYA.
“makanannya enak nak?” bapak mengajakku bicara
“em iya pak” jawabku pelan
Saat itu. Aku rindu.. bukan, bukan rindu rumah. Aku rindu asrama. Rindu sahur bersama dengan teman-teman asrama putri. Ramai, penuh canda dan hal unik lainnya. Aku rindu kebersamaan itu. Diam-diam aku rindu.
Sahabat sesurga  ialah sahabat yang hanya akan kita temukan dalam pencarian cintaNya yang suci. Merekalah orang-orang yang juga mengejar cintaNya. Dimana orang lain mengatakan “kau berlebihan akan agamamu”. Ya memang berlebihan, berlebihan akan ketakutan padaNya. Merekalah yang berjuang. Berjuang meraih cinta yang seutuhnya, cinta dunia dan akhirat.
Bahkan jika kau tidak menemukannya dalam kehidupan selanjutnya. Sahabat sesurga tidak akan pernah benar-benar pergi meninggalkanmu, kalian akan selalu ada dalam do’a-do’anya, dan bahkan mungkin kalian akan dapatkan syafaat darinya.
Dimanakah kita akan menemukan sahabat sesurga? Dan bagaimana caranya? Ini adalah caraku untuk istiqamah mendekat padaNya dengan sahabat sesurga..
1.      Carilah dia dalam doamu, mintalah kepada Allah untuk selalu didekatkan dengan orang saleh dan salehah
2.      Ikuti kajian agama, atau acara-acara mengenai Islam. Disana kalian akan bertemu dengan sahabat yang sevisi, insyaaAllah
3.      Buatlah perkumpulan khusus yang positif. Misal one day one page. Mengaji sehari 1 halaman secara rutin.
4.      Jadikan Al-qur’an sahabat sesurgamu
Inti dari ke 4 tips tersebut. carilah sahabat sesurga yang saat kita memandangnya,   kita teringat Allah, dan mendengar kata-katanya menambah ilmu agama kita, melihat gerak-geriknya teringat akan kematian.
Selamat memburu sahabat sesurgamu sahabat..