Assalamualaikum sahabat-sahabat
yang dirahmati Allah SWT. hari ini saya mau bercerita perjalanan saya hingga
sampai di takdir yang istimewa ini. Apa ituu?? yaa berhasil menjadi bagian dari
keluarga besar Daarut Tauhiid Peduli. Buat saya ini adalah sebuah takdir yang
istimewa, karena disinilah saya belajar lebih lagi tentang luasnya Islam,
lembutnya Islam, dan nilai-nilai kebaikan dalam Islam
Jadi pada awalnya di semester enam saya punya
keinginan untuk belajar tentang akuntansi syariah, karena kebetulan saat itu
saya kenal dengan seorang dosen yang punya semangat luar biasa kecintaannya
dengan akuntansi syariah, beliau bernama Bu Nur, begitulah saya dan teman-teman
memanggil beliau. Beliau selalu share berbagai berita mengenai perkembangan akuntansi
yang sesuai syariat Islam dan bagaimana
Indonesia telah membantu menghidupkan syariat tersebut. Sahabat bisa buka
infonya di Republika.com atau sejenisnya (koran online) disana ada berita
khusus mengenai syariah. Jadi dari membaca jugalah saya berkeinginan untuk tau
lebih jauh mengenai ini. Jadi, sebagai anak akuntansi yang awalnya saya belajar mengenai akuntansi
kontemporer dan kapitalis hehe, saya hijrah untuk belajar lebih jauh bagaimana
Islam mempergunakan Akuntansi untuk jihad dijalan Allah. Takbir ! Allahu Akbar.
Setelah itu saya belajar mengenai akuntansi yayasan dan zakat. Saya berpikir
“wah ternyata lebih mudah ya” hehe. Kelihatannya sih gitu. Mungkin karena
aktivitasnya juga tidak sebanyak perusahaan manufaktur, selain itu juga peraturan
syariah masih sedikit, bisa di search aja di google PSAK Syariah, kalau
dibandingkan dengan PSAK yang kontemporer lebih banyak aturan kontemporer
(saking banyaknya sayapun gak hafal udah ada berapa hehe). Dan sedikit
informasi buat sahabat disini, kalau tidak salah pada awal November kemarin
telah disahkan akuntansi pesantren di acara ISEF Surabaya, wah keren kan? Tentunya.
Dari segalah rasa ketertarikan dan perasaan yang menggebu-gebu itu, saya
ingat bahwa ada yayasan yang keren banget versi saya. Namanya Daarul Qur’an
milik ustadz Yusuf Mansyur. Saya bercita-cita menjadi akuntan di pesantren
beliau ataupun jadi bagian dari keluaga besar Daarul Qur’an. Katanya sih di
Malang ada PPPA Daarul Qur’an tapi saya belum tau lokasinya dimana, belum
sempat juga untuk keliling dan cari lokasinya. Akhirnya iseng nulis panjang
lebar ke ustadz Yusuf lewat instagram. Dan pada akhirnyaa..... gak dibales
wkwk. Ya wajarlah lah ya.. ustadznya satu fansnya banyak hehe. Yang komen dan
DM di IG beliau juga pasti ratusan atau bahkan ribuan. Kemudian setelah kirim
pesan ke ustadz, do’a disetiap shalat saya jadi bertambah satu “ya Allah
aku mau di yayasan atau sebagainya,
dimana aku bisa menerapka ilmuku untuk agamaMu, tapi ya Allah aku mau di
Daarul Qur’an”. Itulah do’a saya, ada kata “tapi”nya, jadi kayak gimana gitu
ya, maksa sama Allah hhe. Itu deh di ulang-ulang terus sampai suatu ketika
Allah memberikan jawabannya.
Pagi itu, insyaaAllah kalau tidak salah ahad pagi. Sahabat saya di
Brawijaya mengirimkan pesan singkat di grup SMB (nanti say ceritakan soal SMB).
Nama sahabat saya Rida (ada yang tau?). Dia
calon Dokter Hewan salehah, jadi nanti kalau hewan sahabat ada yang sakit bisa
ni hubungi sahabat saya hhe. Nah jadi dia kirim pesan begini sahabat
“ada yang mau kencleng sedekah?”
Nah namanya juga grup SMB (Sahabat Muslimah Bondowoso) yang isinya
insyaallah wanita salehah ya (aamiin), jadi banyak yang tertarik termasuk saya
dan Ukhti Laila. Setelah dapat penjelasan dari Rida, saya mantep mau satu
kencleng sedekah. Dan akhirnya Rida nganter kenclengan itu ke kos. Pertama pegang
kenclengnya “ih lucu banget”, kalian berpikir saya alay ya? Nggak loo yang lain
juga berpikiran yang sama hehe. Saat itu saya belum berpikiran jauh kencleng
ini siapa yang menghimpun. Tertulis dikencelang itu “Daarut Tuhiid”. Dan disitu
saya mah cuek-cuek aja, yang penting sedekah gitu. Ternyata takdir kenceleng
itu gak berhenti disana sahabat. Ada seorang ikhwan yang menghubungi saya,
namanya Akh Wahid. Beliau ternyata kating (kakak tingkat) sahabat saya, Rida. Akh
Wahid mengirimkan pesan singkat juga ni, bilang
“dek mau gak anti bawa kenceleng lebih banyak? Sekaligus anti jadi
koordinator POLINEMA”
Wah disitu saya galau mendadak wkwk. Karena kan saya sudah semester enam
setelah itu skripsi. Jadilah waktu itu saya berpikir. “kalau dibawa, kira-kira
ada yang mau gak ya sama kencleng ini?”, “kalau gak ada yang mau, gimana ya? Masa
iya mau dikembalikan”, "berarti kudu antar jemput kencleng dong, sempet gak ya?". Nah seharian berpikir kemudian saya dapat jawabannya. Saya
bersedia membawa kencleng itu dengan niat Lillahita’ala. Kan katanya kalau
karena Allah udah ada jalannya, udah tersedia kebaikan-kebaikan dan jalan
terbaiknya, tinggal sabar ajaa. Ya gak? Hehe. Awalnya dikasi 6 kencelang dan
dalam waktu 1 hari kencleng itu sudah ada pemiliknya, alhamdulillah. Tinggal laporan
ke akh Wahid. Dan akhirnyaaa ditambain lagi kenclengnya gaaess.. katanya gini “wah
anti ternyata cepat ya, saya tambah kenclengnya lagi ya?”. Awalnya galau lagi,
tapi capek ya galau lama-lama, dengan hati ikhlas akhirnya saya terima kencleng
lagi, kalau tidak salah ada 20 kencleng saat itu. Dan alhamdulillah ludess..
dibantu juga sama ukh laila yang kebetulan juga jadi koordinator di POLKESMA. Karena
bawa kenclengnya banyak, jadi saya dapat brosur dan majalah. Saat itulah saya
terpana, terkesima, ter ter ter yang lain saat saya membuka brosur dan
majalahnya. Kenapa? Karena yang menjadi pimpinan di Daarut Tuhiid, yang
kenclengnya ada di saya ini adalah Aa Gym gaaeess.. gk tau sih waktu itu aku
bahagia, bangga juga.
Setelah perjalanan perkenclengan itu. Akhirnya Ramadhan tibaaaa, yeey
hehe.. Ramadhan tiba dengan segala kemanisan sirup marjan dan ramainya antrean
saat menjelang maghrib. Meskipun saya full Ramadhan tanpa keluarga dan kampung
halaman, tapi nikmatnya tetap sama kok. Nikmat dengan segala karunia Allah yang
limpahannya tiada tara. Termasuk nikmat yang satu ini. Pada akhirnya ada pesan
dari Akh Wahid.
“dek anti dan ukh laila mau ana ajak ke Daarut Tauhiid” wah seneng banget
kan jadinya.
Jadilah kita bertiga saat itu ke kantor Daarut Tuhiid. Bertemu dengan
ustadz Arif yang ramaaah bangget. Ketemu sama Pak Dedy yang juga gak kalah
ramah. Ada ukhti Ika juga, ternyata Ukhti Ika adalah sahabat Ukh Laila di Majelis
Al-ghifari. masyaaAllah ternyata dunia ini sempit ya. Kita berkumpul di kantor
Daarut Tuhiid yang bersih dan wangi banget. Kata ustadz, Daarut Tuhiid selalu menanamkan nilai-nilai kebersihan dan kerapian karena kebersihan sebagian dari iman seorang muslim. Jadi harus ditunjukan tu. Ustadz
dan lainnya menyambut kami dengan sangat baik. Banyak hal yang diceritakan oleh
beliau. Ustadz mengajak kami bergabung aktif di Daarut Tuhiid, dakwah lewat
kencleng itu. Dan ternyata Daarut Tuhiid Peduli baru tiga bulan berdiri. Tambah bahagia
dong dapat berita itu, karena itu berarti yang berada di kantor itu juga sedang
belajar bersama membangun Daarut Tuhiid Peduli dan saya juga ada dalam bagian
itu. Fix akhirnya riska jadi bagian dari Daarut Daarut Tuhiid Peduli. Alhamdulillah...
setelah itu saya ikut kegiatan-kegiatan DT Peduli yang lain, seperti membagikan
zakat, terus berjuang dengan kencleng dan ketemu sama sahabat-sahabat yang
hebat dalam dakwah. Waktu itu Ramadhan saya benar-benar dapat keluarga baru yang
luar biasa di Malang tempat saya merantau.
Ketika doa-doa saya terjawab, saya berhenti sejenak menikmati karuniNya. Kenapa
saya mengatakan “doa saya terjawab” padahal saya kan tidak ditakdirkan di
Daarul Qur’an? Hehe. Sahabat ingat tidak dengan firman Allah yang satu ini
“Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal
berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu,
Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)
Dalam ayat itu Allah ingin menjelaskan pada kita bahwa
Allah tau tempat terbaik untuk kita sahabat. Mungkin kalau saya di Daarul Qur’an
tidak akan mendapatkan euforia perjuangan membangun sebuah lembaga dari awal,
ya kan?. Jalani takdir terbaik dengan versi Allah itu membahagiakan,
seperti kita berjalan diatas taman bunga yang sudah ada jalan khusus untuk
kita. Yang artinya, Allah bimbing, mempermudah kita bertemu dengan
kebaikan-kebaikan yang lain.
Mungkin
ini agak gak nyambung kenapa saya tiba-tiba nanya, pernah dengar lagu edqoustic
yang berjudul sepotong episode? Ini dia liriknya
sepotong episode masa lalu aku
episode sejarah yang membuatku kini
merasakan bahagia dalam diin-Mu
merubah arahan langkah di hidupku
episode sejarah yang membuatku kini
merasakan bahagia dalam diin-Mu
merubah arahan langkah di hidupku
kalimat dalam lagu ini, mewakili apa yang saya jalani selama ini. Bahwa sepotong
episode yang telah terjadi dalam hidup saya begitu mudah membuat saya berubah
haluan menuju jalanNya. Tapi saya tau perjalanan ini bukanlah perjalanan yang
mudah sahabat. Amanah besar menunggu diujung sana (nanti saya akan ceritakan
lebih banyak). Bukankah Allah telah berfirman
“ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka
dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji
lagi? (Al-ankabut :2)
Jadi, perjalanan masih panjang. Semoga Allah selalu memberikan kesabaran
dan keistiqamahan kepada saya dan teman-teman di Daarut Tauhiid mengemban
amanah-amanah kedepannya. Aamiin Allahumma aamiin.


