Senin, 31 Juli 2017

DULU KITA MASIH SMA

Masa itu, siapa yang tak ingin mengulangnya. Ah rindu, aku rindu. Tidak kah kau juga rindu?. Kita dulu masih SMA, berlakon dengan peran-peran yang seru, mencoba asiknya menjadi seorang remaja. Berjalan di koridor sambil mengumbar senyum dan melambaikan tangan. Mesin absen menyambut dengan semangat, beridiri setia didepan kita setiap pagi.

Dulu, kita masih SMA. Tak peduli kapan akan tua. Bermain dan berteriak girang ditengah lapangan.  Dingin pun tak pernah menjadi keluhan, asal kau aku menjadi kita ditengah dinginnya malam. Tak perduli jam tangan terus memanggil untuk pulang, kita masih asik, kita masih ingin disini. Mungkin sejatinya kita mengerti bahwa masa itu berbatas waktu.

Ikan-ikan di kolam sekolah mungkin hafal siapa yang selalu melaluinya setiap hari, yang memandangnya ketika raut wajah menjadi sendu, dan yang memberinya makan setiap kali mereka lapar. Bahkan yang mengganggunya ketika mereka sedang bersantai didalam air dengan ucapan “selamat ulang tahun” dan ada dari kita yang tercebur kedalam kolam. Kita suka melakukan itu, dulu itu adalah ungkapan cinta kita. Mungkin saat ini hanya dengan bouqet bunga dan balon warna-warni. Tapi kita lebih suka untuk rela menjadi basah dan bau, kemudian tertawa bersama, bahagia bersama.

Dulu kita masih SMA, masa itu, semua sudut kita jajaki. Masa dimana kita memulai pencarian yang panjang. Yang tertawa saat terhukum, yang tertawa saat melakukan hal konyol, yang bereksperimen dengan hal-hal baru, yang lupa bahwa setiap orang memiliki jatah untuk sedih, yang riang bernyanyi bersama seakan kita akan utuh selamanya, yang tersenyum malu seakan si dia jatuh cinta juga.

Dulu kita masih SMA, kisah yang tak pernah lekang. Walaupun masa tak selalu sama. Masa SMA bisa hadir kapanpun itu. Akan selalu di retweet critanya sepanjang masa. Akan tetap tertawa saat kita bertemu dan bercerita.
SMA, aku rindu...

Minggu, 30 Juli 2017

Allah Bagiku


Sahabat, aku suka curhat diatas motor dengan Allah, banyak sekali yang aku ceritakan saat aku mulai naik hingga sampai ditujuan, kalau dibuat novel mungkin sudah menjadi sekian buku hehe. Kenapa gak di masjid ? kenapa gak di atas sajadah? Tak usah ditanyakan, aku hanya ingin menyampaikan hobi konyolku kepada kalian. Apa Allah protes? Tentu tidak, Allah itu selalu ada dimanapun aku dan kalian berada. Aku selalu membayangkan Allah berjalan bersamaku setiap saat, bahkan saat aku sendiri.

Dulu, saat untuk pertama kalinya aku berbicara didepan ratusan orang disebuah forum, yang aku lakukan adalah menepuk pundak sebelah kananku, saat itu aku membayangkan Allah yang menepuk pundakku. Saat aku berjalan, aku sebut asmaNya untuk aku yakinkan sekali lagi Allah berjalan bersamaku, saat aku memegang microphone, sebelum aku berbicara, aku berkata dalam hati “ya Allah aku tau kau bersamaku” kemudian aku bayangkan Allah tersenyum melihatku. Disitulah Allah bagiku, yang selalu ada.

Saat aku menangis, aku selalu mengulang kalimat “laa tahzan innallaha ma’ana” berulang-ulang kali. Apakah aku berhenti menangis? Tidak hhe, aku terus menangis dan menangis, kenapa? Karena aku terharu, Allah memelukku dengan erat dan berkata “jangan menangis, aku disini”. Yaa begitulah sahabat, Allah bagiku.

Saat aku senang. Langkahku adalah syukur yang tak terhingga.

Allah bagiku seperti sahabat setia