Senin, 27 November 2017

Indahnya Negeri Sakura dan Suka Duka didalamnya (SMB Daily)





Haaii.. Assalamualaykum, maaf ya Sahabat karena mungkin sudah banyak yang menunggu tulisan yang satu ini (mengenai SMBDily).  Maaf sekali lagi karena saya menulis disela-sela kesibukan menyusun skripsi (mohon do’anya) hehe.  Nah seperti yang sudah saya janjikan, bahwa kali ini saya akan berbagi mengenai isi dari seminar online SMB (Sahabat Muslimah Bondowoso) yang diselenggarakan hari sabtu kemarin tanggal 25 November 2017 dengan moderator Ukhti Cinthika Angandari (pengurus SMB) dan pemateri mbak Asya Fathya Nur Zakiah yang saat ini sedang melaksanakan pendidikan S2-nya di Jepang, huwaaa keren banget ya muslimah satu ini. Mau tau banyak soal beliau? Yuk disimak berlangsungnya acara seminar online kemarin “Indahnya Negeri Sakura dan Suka Duka didalamnya"
***
Assalamualaykum warohmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, puji syukur sudah sepatutnya kita haturkan kepada sang khalik, Allah SWT, atas nikmat luarbiasa yang tidak henti-hentinya dianugerahkan kepada kita, nikmat iman dan islam. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Rasul Muhammad Sallallahualaihiwasallam, serta kepada keluarga dan sahabat beliau serta kaum mislim yang sampai saat ini tetap teguh menjalankan syariat islam.
Perkenalkan nama saya cinthika selau moderator SMBDaily akan memandu jalannya seminar online mengenai “Indahnya Negeri Sakura dan Suka Duka didalamnya”. Saya persilahkan mbak Asya memperkenalkan diri, selaku pemateri pada malam ini.
Assalamualaykum Wr. Wb. Perkenalkan nama saya Asya Fathya Nur Zakiah. Sahabati disini semua bisa memanggil saya Asya. Asli Cianjur (Jawa Barat). Saat ini saya sedang melanjutkan studi di Tohoku Unversity, Japan dengan bidang Marine Biochemistry dan beasiswa LPDP, salam kenal semuanya.
Seelumnya terima kasih telah diberikan kesempatan untuk sharing sedikit pengalaman Asya hehe. Semoga ada kebaikan yang bisa diambil, dan yang jeleknya jangan yaa. Disini Asya juga masih belajar hehe, semoga kedepannya bisa sama-sama belajar.
Disini Asya ingin sedikit cerita perjalanan asya dalam merealisasikan mimpi untuk study abroad. Ketika SMA dulu, asya bercita-cita masuk sekolah tinggi supaya bisa langsung mendapatkan pekerjaan,. Qadarullah, ternyata rezekinya asya masuk ke Institut Pertanian Bogor (IPB), alhamdulillah, lingkungan IPB yang cukup memadai sehingga asya mendapatkan banyak inspirasi untuk menjadi pribadi yang aktif, dan bahkan berkeinginan untuk keluar negeri atau study abroad. Pertama kali ke jepang sewaktu tingkat tiga perkuliahan mengikuti konferensi. Sebar kesana-kemari proposal pendanaan bersama dua teman lainnya (satu tim) sambil membayangkan suatu saat kami akan berjalan-jalan di Jepang. Dan detik-detik terakhir alhamdulillah ada yang mendanai juga. Setelah melihat bumi Allah lainnya yang ternyata luas loh. Lebih indah juga, akan ada keinginan untuk kembali atau menjelajai belahan bumi lainnya. Oh ya.. kenapa jepang? Sejujurnya, asya biasa saja dengan anime, atau hal yang berbau jepang, tapi rezekinya ke Jepang terus hehe. Asya suka dengan negara ini karena mereka mandiri, disiplin, teratur, dan pekerja keras.
Dari pengalaman-pengalaman tersebut, asya berkeinginan untuk melanjutkan studi di Jepang. Mengambil hal-hal yang baik dari negeri ini dan berbagi kepada sahabat/adik/kakak supaya juga bisa melihat dan merasakan pengalaman yang luar biasa ini.
Perjalanan merealisasikan mimpi baru saja dimuai. Asya harus mendapatkan beasiswa keluarga asya bukan miliarder yang mampu menyekolahkan asya keluar negeri. Dan asya harus mendapatkan beasiswa ataupun lanjut studi asya mulai ketika tingkat pertama perkuliahan S1. Selain aktif menjadi mahasiswa, asya juga mengusahakan diri untuk aktif ikut organisasi, menjadi volunteer kegiatan sosial, mengikuti perlombaan, dan pertukaran pelajar, kegiatan tersebut semata-mata asya lakukan untuk mencari pengalaman, belajar, menambahkan koneksi juga refreshing dari penatnya belajar hehe. Dan secara tidak langsung kegiatan tersebut mewanai CV kita ketika apply beasiswa ataupun universitas.
Alhamdulillah setelah apply beberapa kali beasiswa, rezeki asya ada di LPDP, jepang yang terkenal sangat disiplin menjadi tantangan tersendiri untuk asya yang sering kali deadliners. Banyak sekali hal-hal yang asya dapat selama study abroad disini. Suka dan dukanya juga banyak hehe. Sukanya, asya berkesempatan mendapatkan pengalaman baru dalam kegiatan pembelajaran yang berbeda dengan indonesia; bisa banyak belajar hal-hal baik dari teman-teman disini. Dukanya merantau seringkali rindu kampung halaman hehe.
Tapi terlepas dari itu semua, “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia” alhamdulillah, dari inspirasi yang asya dapat dari rekan/kakak/adik kelas di sekitar asya. Asya juga ingin sekali berbagi hal baik yang asya dapatkan, entah itu dengan bercerita, mengajak mengikuti suatu hal ataupun sedikit membantu rekan/kakak/adik dalam merealisasikan target-targetnya.
Kunci sukses menurut saya berawal dari niat. Jangan sampai niatnya karena sesuatu yang fana hehe. Usahakan niatnya karena Allah yak. Selanjutnya, keluar dari zona nyaman dan menjadi bermanfaat bagi orang banyak. Dan usahakan serta kondisikan lingkungan sekitar kita orang-orang baik dan mendukung kita untuk melakukan hal-hal baik.
SESI TANYA JAWAB :
Bagaimana kehidupan di jepang selain mengedepankan kedisiplinan? Dan lagi ada pendapat yang sekerang sedang booming yang bilang kalau jepang, tanpa agama. “orang-orang juga bisa hidup dengan baik, rukun, dll?”
Kehidupan di jepang juga mengedepankan keteraturan, contohnya : dalam skala rumah tangga sudah mulai dilakukan pemilihan pembuangan sampah. Misal dibagi menjadi beberapa jenis, plastik, botol, kertas, selain itu, jadwal bis dan kereta juga sesuai dan tepat waktu. Mereka juga pekerja keras. Di lab saya, (tidak ada peraturan tertulis), masuk jam 10.00 dan pulang jam 19.00 atau bahkan lebih. Dan hari sabtu pun masih ke kampus. Terkait yang lagi hot saat ini, menurut saya, sebaiknya untuk melihat sesuatu hal jangan satu sisi saja. Coba lihat dari sisi lainnya. Dan jangan hanya traveliing satu/dua minggu saja.  Coba berinteraksi lebih jauh dengan orang-orang disini, atau coba tinggal disini satu/dua tahun lebih. Dari sana kita bisa meligat baik dan buruknya serta bisa membandingannya dengan bijak. Orang jepang memang jujur dan disiplin. Hal-hal baik ini telah menjadi suatu kebiasaan dan mereka diajarkan sejak dini. Kita pun bisa seperti itu. Orang- orang jepang sendiri punya agama, ada shinto, budha, kristen, dan juga atheis. Tapi menurut saya pribadi, tanpa agama akan terasa sulit.
Dijepang, tekanan dalam pekerjaan, studi cukup besar. Sehingga ketika orang stress mereka bingung mencari pelariannya, hilang arah. Bahkan, tak jarang mereka melakukan bunuh diri.
Lalu, saya pernah mendapatkan cerita dari kakak kelas yang lebih lama tinggal di jepang, ada orang jepang yang ketika ia mencapai sesuatu yang dia inginkan dan sangat bahagia, dia merasa tidak enak karena dia tidak tau ingin berterima kasih pada siapa. Karena dia tidak memiliki Tuhan. Dan ternyata ketika senang, beberapa dari mereka ternyata bingung mengungkapkan ke siapa.
Kata mbak asya tadi kunci pertama adalah niat. Nah lalu bagaimana mbak, cara kita sebagai pelajar khususnya siswa SMA yang kadang niatnya banyak yang salah. Karena jujur banyak anak SMA niat ke sekolah karena agar setelah lulus SMA bisa masuk ke perguruan tinggi negeri yang favorit. Tentu itu adalah niat yang salah, karena niat awal menuntut ilmu juga sebagai ibadah. Lantas bagaimana cara kita agar diri sendiri percaya bahwa nia menuntut ilmu itu sebagai ibadah? Sedangakan kita kebanyakan para siswa sudah di setting pemikiran dari seminar-seminar motivasi dan dari guru jika nilai kita bagus akan mudah diterima di PTN terbaik, padahal jika di telaah lagi, niat yang benar adalah Lillah menuntut ilmu Lillah menuntut ilmua bukan karena nilai tinggi dan diterima di PTN terbaik.
Waalaykumsalam. Wah pertanyaannya ya hhe disini saya juga masih belajar terkait niat karena Allah. Motivasi mendapatkan nilai yang bagus supaya diterima di PTN terbaik itu tidak salah sebenarnya. Tapi saya belajar dari pengalaman ketika meniatkan diri pada suatu hal yang fana itu terasa sekali sakitnya ketika harapan yang kuat buat ternyata bukan rezekinya kita. Akhirnya, kita akan percaya dan menyerahkan sepenuhnya pada pilihan terbaikNya. Selain itu, dengan niat ibadah. Bonusnya in syaa Allah mendapatkan pahala.
Meyakinkan diri supaya menuntut ilmu itu adalah ibadah sebenarnya bisa dimulai dengan hal-hal kecil. Misalkan untuk mendapatkan nilai yang bagus, pasti kita berusaha dengan sungguh-sungguh, tidak dengan cara yang tidak di ridhai-Nya (red:mencontek). Toh untuk apa? Khawatirnya nanti yang kita dapatkan malah jadi tidak halal.
Dan berdasarkan pengalaman saya yang ingin masuk Sekolah Tinggi karena nantinya supaya mudah mendapatkan pekerjaan ternyata salah. Bahkan, Allah punya rencana yang lebih baik lagi untuk saya. Jadi Lillah saja karena Allah.
Motivasi terbesar mbak asya apa ya? Mungkin pernah ngerasa lelah/hampir menyerah gitu kan pasti pernah ya? Lalu bagaimana cara ngatasi kalau kita lagi gak istiqamah/males?
Lelah atau menyerah pernah, bahkan sering. Motivasi terbesar saya, saya ingin membuat orang tua dan keluarga saya bahagia dan bangga. Saya, tipe orang yang “no wacana”, karena orang-orang yang wacana sudah terlalu mainstream hehe cara mengatasinya ketika sedang tidak istiqamah/malas: melakukan me-time supaya refresh lagi semangatnya. Ngobrol/konsultasi dengan teman-teman satu visi supaya bisa re-charge lagi semangatnya. Melihat video-video motivasi dan juga bersyukur atas apa yang kita punya, jangan sampai menyianyiakan kesempatan yang ada karena malas.
Untuk mendapatkan beasiswa itukan kita harus jadi mahasiswa yang berprestasi, nah bagaimana dengan mahasiswa yang kemampuannya terbatas dalam arti IQnya sedang atau rendah? Terkadang juga minder sama orang yang lebih pinter dari pada kita. Dan bagaimana caranya agar kita percaya diri dalam menggapai sesuatu, apalagi ketika kita ingin berubah entah jadi hafidzah, ada saja yang mencemooh
Untuk mendapatkan beasiswa sebenaranya tidak perlu menjadi mahasiswa berprestasi. Ada banyak sekali beasiswa yang tidak mensyaratkan hal seperti iti. IQ saya pun sedang hhe bahkan IPK saya pun baisa saja tapi alhamdulilllah cukup untuk apply beasiswa.
Percaya diri dalam menggapai sesuatu menurut saya biasa dilakukan dengan cara :
1.      Jangan berpangku dengan penilaian orang lain. Saya punya teman (dalam kasus ini masih tentang beasiswa ya). Dia IPKnya rendah. Dan bahkan banyak orang yang mencemooh dia, ketika dia ingin lanjut studi S2. Qadarullah, akhirnya dia membuktikan cemoohan mereka salah, dia bisa merealisasikan apa yang dia targetkan. Dan begitupun menjadi hafidzah. Karena kita tidak bisa menyenangkan setiap orang
2.      Jika hal tersebut menurut kamu baik untuk kamu dan juga orang lain, jangan minder! Kamu harus percaya diri. Kenapa harus tidak percaya diri jika memang itu sesuatu hal yang baik?
3.      Share atau konsultasi dengan orang-orang yang bisa membuat kamu percaya akan kemampuan diri sendiri. Mengkondisikan lingkunagn sekitas menurut saya sangat penting
Kalau boleh tau apa sih rutinitas mbak asya untuk bisa menjaga keistiqamahan sebagai muslimah ? karena sepertinya mbak asya adalah muslimah yang aktif
Rutinitas saya masih jauh dari sempurna dari sahabati disini. Pun sebenarnya kegiatan yang saya lakukan pun masih jauh dari kata istiqamah. Tapi saya selalu coba mengusahakan shalat tepat waktu. Karena ketika kita perbaiki jadwal shalat, in syaa Allah.. Allah akan mengatur jadwal hidup kita; shalat dhuha sembari memperbanyak rakaatnya; meminta ridha orang tua terkait kegiatan-kegiatan yang saya jalani; berkumpul dengan teman-teman yang bisa me-recharge rohani saya; melakukan amalan-amalan sunnah; serta saya selalu reminder diri ketika ketidakistiqamahan melanda.
Alhamdulillah terima kasih mbak asya sudah menjawab semua pertanyaan sahabati dengan sangat baik. Sebelum diskusi ini ditutup, mungkin ada kesan pesan untuk kami mbak?
Kesannya saya salut dengan sahabati yang mau belajar menjadi lebih baik lagi, salah satunya berkumul dalam grup ini. Saya yakin sahabati disini keren-keren, diatas rata-rata dari yang lainnya karena sudah memiliki niat yang baik bahkan lebih baik dari sekitarnya.
Pesannya yang semangat selalu merealisasikan target-target kedepannya. Oh ya.. jangan ragu untuk bermimpi setinggi-tingginya yaa, jika jatuh.. jatunya diantara awan-awan hhe, jangan takut untuk pergi merantau, melihat bumi Allah lainnya yang luas. Dan... jangan lupa pulang ke kampung halaman. Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memajukannya hehe (reminder untuk diri juga). Semoga ada hal baik yang bisa diambil, yang tidak baiknya dibuang yaa
Alhamdulillah, kita telah berada di akhir acara.. saya selaku moderator, mohon maaf atas kesalahan yang saya lakukan.. mari kita tutup acara ini dengan Do’a Kafaratul Majelis
***
Barakallah, udah baca yaa berlangsungnya seminar online kemarin. Keren kan? Yaa doong hehe. Support terus SMB ya di Instagram  @sahabatmuslimahBws, doain kita terus semoga bisa berbagi ilmu, pengalaman, dan pokonya menebar manfaat untuk sahabati semua. Jazakillah khair, wassalamualaykum wr.wb

Jumat, 17 November 2017

MENJADI PEREMPUAN HEBAT (Pengalaman THRU #2)




            Assalamualaikum sahabat, terima kasih karena sudah menyempatkan untuk membaca tulisan saya. Semoga dengan ini semakin bertambah semangat kita untuk belajar, dan meraih RidhaNya (aamiin). Apa kabar sahabat? Semoga baik yaa.. dan selalu dalam lindungan Allah SWT (aamiin). Sahabat, kali ini sesuai dengan janji saya, saya akan menyampaikan lanjutan dari pengalaman saya mengikuti seminar THRU, kalau kalian belum tau THRU itu apa, kalian bisa baca di pengalaman THRU part pertama yaa.. Mau ngingetin lagi, materi ini di sampaikan oleh Teh Karina Hakman. Naah bagi yang belum tau siapa Teh Karin, sok atuh di baca Part satunyaa.. hehe jadi intinya, baca part satu dulu baru yang ini yaaah..
            Ada beberapa pertanyaan yang akan diajukan kali ini. untuk konsep penulisan saya, tetap akan saya sajikan seperti tanya jawab dalam seminar online ya sahabaat.. silahkan disimak pertanyaan pertama dari salah satu peserta mengenai bagaimana cara membagi waktu versi Teh Karin nih hehe,
Asslamualaikum mbak, mau Tanya, gimana bagi waktu pas masih kuliah sama ngasuh anak? Setelah lahir anaknya dititipkan atau gimana?
InsyaaAlllah saya coba bagi menjadi 2 tahap : pembagian waktu ideal dan realita terjadi. Idealnya, sederhananya, ketika saya kuliah, maka suami kerja part time. Meskipun asi eksklusif, rencananya ingin pumping. Semuanya rencana awal. Realitanya ?
Yaa realitanya :
1.      Saya gak berhasil pumping. Sejak lahir sampai anak –anak usia 6 bulan, anak-anak selalu ikut kemanapun saya pergi. Termasuk kuliah.
Alhamdulillah, seluruh civitas Monhas mendukung saya untuk membawa anak ke kampus, menyusui di kelas, sambil mendengar dan mencatat, suami ikut ke kampus, menunggu di luar kelas. Ketika episode Maryam yang asi eksklusif, suami di luar bersama yusuf. Kalau asi sudah beres, maka saya bawa Maryam ke luar ke luar kelas, main dengan abi dan Yusuf.
2.      Realitanya, tugas yang banyak, yang rencananya harus dikerjakan di malam hari, seringkali gagal terkerjakan sesuai dengan jadwal.
Saya memiliki satu ginjal. Daya tahan tubuh dan stamina saya harus betul-betul dijaga.
Selain itu, selama hamil Maryam (tingkat 1 kuliah), saya 2 atau 3 kali mengalami perdarahan ringan. Harus istirahat total dan mengurangi berbagai kegiatan melelahkan.
Lalu bagaimana?
            Sebetulnya, intinya, saya ngerasa nggak ada lagi yang bisa saya lakukan, kecuali untuk tetap bergerak semampu saya. Tetap belajar dan mengerjakan tugas meski ada bersitan bahwa saya gak akan bisa menyelesaikannya. Tetap berdoa di saat saya terkapar , dan tidak mampu melakukan apa-apa. Dan justru episode terindah adalah ketika kita menyadari tidak mampu melakukan sesuatu, dan hanya Allah lah yang mampu menyelesaikannya”.
Qodarullah, tidak terhitung berbagai kemudahan rezeki dari Allah sepanjang kehidupan student mom saya, mulai dari perpanjangan waktu tugas, nilai yang ternyata bagus, dan ujian yang ternyata memberikan soal sesuai dengan materi yang saya pelajari. Allahua’lam bishawab.
            Alhamdulillah itu tadi pertanyaan pertama di part 2 ini sahabat. Apa yang bisa kita dapat? Ternyata Teh Karin sudah merencakan apa-apa yang akan beliau lakukan setelah bersuami dan memiliki anak. Namun ternyata antara rencana dan realita jauh banget ya. Disitulah tantangan mulai datang sampai beliau sakit, namun apa poin pentingnya? Poin pentingnya ialah bahwa sesulit apapun tantangan yang kita hadapi, Allah sudah memberikan sesuai dengan kemampuan kita dan jika kita melakukan tantangan itu dengan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan kemudah-kemudahan dari jalan yang tak kita sangka-sangka. masyaAllah, Allah memang pemberi solusi terbaik yaa..
            Oiya ada pertanyaan mengenai buku apa ni yang harus dimiliki perempuan kalau mau belajar ilmu parenting (parenting itu ilmu cara mendidik anak). Eh tapi ada yang bilang, “ris ngapain sih belajar perenting? Kan kita masih muda?” nah jawaban saya adalah, justru karena kita masih mudah, masih panjang waktunya, jadi perbanyakin ilmu untuk mempersiapkan masa depanmu, dan masa depan generasi-generasi kita itu perluu looh, jangan malu belajar parenting, ini adalah ilmu yang super duper penting buat perempuan. Eh yaa sampai lupa buku apa yaa yang harus dimiliki, nah ini jawaban Teh Karin
Kalau belum menikah, mulailah dengan mempelajari buku pernikahan dan fiqih wanita. Buku nikah bisa yang Mahkota Pengantin atau bahaianya merayakan cinta (untuk pemula). Kalau lebih dari itu, ada yang lain. Fiqih wanita yang sederhana dan rangkuman, oleh Syekh kami Muhammad Uwaidah, biasanya satu buku cukup. Kalau mau lebih dalam, ada juga kebebasan wanita, berisi 6 jilid. Buku parenting, saya sendiri pakai 2 buku yang saling melengkapi, yaitu : Tarbiyatul Aulad fil Islam dan Prophetic Parenting. Selain dari dua buku itu, buku lain yang menurut saya sangat bagus bukunya Fitrah Based Education oleh Harry Santosa. Baguss banget walaupun saya belum punya, cukup mahal, tapi saya pelajari isinya online dari fb penulisnya.
            Tuh dah list buku yang sahabat bisa beli kalau mau belajar yaa. Ada yang penasaran gak keseharian Teh Karin itu ngapain aja yaa, karena mungkin saja sahabat disini ada yang merasa kehidupannya sia-sia dan waktu habis percuma, naudzubillah.. semoga yang mengalami ini segera usai ya, dan yang belum semoga saja gak pernah ya ngalami ini, istighfar dulu yuk.. jangan sampai kita masuk dalam golongan yang merugi. Inilah jawaban Teh Karin soal kegiatan-kegiatan beliau.
Kegiatan harian saya bervariasi sekali. Seringkali banyak kejutan. Sebetulnya yang menurut saya lebih pentng untuk dijawab adalah KENAPA MERASA WAKTU TERBUANG PERCUMA, mungkin perlu di telusuri nih,
-          apakah pekerjaan itu sesuai dengan “muyul” ukhti atau tidak
-          apakah dalam pekerjaan tersebut terdapat manfaat atau tidak
-       apakah pekerjaan tersebut melibatkan maksiat yang mengurangi atau bahkan menghapus keberkahan atau tidak
karena seharusnya amal kebaikan yang satu, akan membimbing kepada amal kebaikan lainnya. Seharusnya, setelah beramal saleh, kita akan merasakan kepuasan syukur lahir dan barin. Alllahualam bishawab, hapunten kalau ada salah dan kurang.
Tambahan lagi :
Masalah pengaturan waktu, menurut saya, tidak ada one best answer. Karena culture dan kondisi rumah tangga seyiap kita berbeda. Kalau saya usahakan menjadi pedomannya adalah :
1.      setiap kegiatan dibagi meyesuaikan jadwal shalat dulu
2.      belajar dari Teh Yuria Cleopatra (Teh Patra), jangan jadikan anak sebagai alasan menunda shalat. Silahkan cek fn beliau bagaimana tips dan trik mengatur kulitas ibadah dan shalat.
3.      Belajarlah untuk khusyuk dalam melaksanakans segala sesuatu.
Khusyuk disini bermakna :
-          Arti sebenarnya : mengingati bahwa kita akan kembali kepada Allah
-          Arti terapan : bersikap mindful, fokus, dalam mengerjakan sesuatu sehingga setiap pekerjaan yang dilaukan pada saat itu bisa terlaksana dengan cepat, baik, dan tuntas
4.      Hindari stress dengan multi tasking pada saat menjada anak. Menjada anak sambil mengejar deadline hanya akan membuat frustasi. Kalau harus menjaga anak, lepaskan segala beban, tapi jalau sedang beraktifitas di luar, keluarga tetap terpatri didalam hati. Karena menjadi sebagian jawaban sudah diatas ya.
Ssooo.. poin penting apa yang kita dapat dari pertanyaan terakhir ini? BAGILAH WAKTU MENYESUAIKAN WAKTU SHALAT. Jangan menunda shalat itu intinya. Saya pernah datang kesebuah seminar islami, ada 2 pemateri yang hadir disana, beliau-beliau diberi pertanyaan yang sama yakni bagaimana mereka membagi waktu. Jawaban mereka adalah sama, yakni MULAILAH HARI DENGAN HAL YANG BAIK, YAKNI SHALAT SUBUH TEPAT WAKTU. Jadi gituu sahabat.. cara ampuh membagi waktu.

Udah capek baca? Yaa sama saya juga sudah capek nulis wkwk. Mau lanjut nugas heehe.. semoga sedikit ilmu dan pengalaman yang saya dapat dari THRU 1-2 sahabat bisa mengambil hikmah dan pembelajaran. Mohon doanya untuk saya semoga selalu istiqamah dalam menulis yaa.. buat Teh Karina juga semoga beliau dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT, untuk THRU Family kita doakan semoga selalu menjadi komunitas yan bisa menebar kebaikan-kebaikan , aamiin Al fatihah 
Jazakumullah khair sahabat, makasi sekali lagi karena sudah menyempatkan untuk membaca, semoga menjadi amal kebaikan untuk kita semua, aamii
 wassalamualaikum




Kamis, 09 November 2017

MENJADI PEREMPUAN HEBAT (pengalaman THRU 1)



          


          
Assalamualaikum sahabat. Terima kasih karena telah menyempatkan untuk  membaca tulisan saya hari ini. semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin. Sesuai dengan apa yang sudah saya sampaikan melalui media sosial saya, bahwa kali ini saya akan menyampaikan ilmu yang saya dapat dari seminar online yang diadakan oleh The Real Ummi  (THRU) dengan judul materi Keluarga Muda : Be a Productive Mom.
            THRU adalah sebuah learning and sharing platform bertema keluarga dan pengasuhan anak. Saya bukan pengurus inti dari THRU. Saya hanya pendaftar dan masuk didalam grup THRU melalui telegram. Saya rasa grup ini sangat bermanfaat bagi perempuan. Jadi saya ingin membagi ilmu yang saya dapat untuk teman-teman akhwat (perempuan) disini dengan melanjutkan misi sederhana dari THRU yakni ingin membangun kesadaran bersama pentingnya membekali diri dan menyiapkan ilmu dalam membangun keluarga dan menjadi orang tua, khususnya bagi para perempuan yang akan menjadi madrasah pertama dan utama bagi buah hatinya.
            Tulisan saya kali ini akan dikonsep lebih ringan seperti kita mengikuti sebuah seminar online. Perlu diketahui sebelumnya bahwa yang menjad pemateri pada event THRU kali ini ialah Teh Karina Hakman, Ibu muda sekaligus awardee LPDP lulusan Auckland dan Monhas University. Waahh keren banget yaa beliau. Nah kalau sahabat udah penasaran banget seperti apa Teh Karina, yuk dilanjut bacanya, saya akan menulis apa-apa yang disampaikan oleh beliau dan pertanyaan dari teman-teman yang ditujukan untuk beliau.
             Bismillahirahmnanirahim… yuk kita baca perkenalan singkat dari Teh Karin dulu.
“perkenalkan nama saya Nadia Karina Hakman, biasa dipanggil Teh Karin. Tahun 2009-2013 alhamdulillah Allah memberikan amanah bagi saya untuk kuliah S1 di University Of Auckland, New Zealend, mengambil Bachelor of Commercee dengan beasiswa yang saya dapat. Tanggal 4 jan 2014, Alhamdulillah saya menikah dan hingga sekarang dikaruniai 2 orang anak. Yusuf dan Maryam. Setelah menikah, hasil musyawarah keluarga kami, saya memutuskan untuk melanjutkan studi S2. Alhamdulillah, tahun 2014-2016, Allah mengizinkan saya melanjutkan studi S2 mengambil Master of Business, Monhas University, Australia. Pendidikan ini didukung oleh beasiswa penuh dari LPDP. Setelah pulang ke Indonesia, terhitung bulan Agustus lalu, Alhamdulillah saya sudah diterima menjadi calon dosen tetap non PNS di FE UNPAD, dan dosen part time FTIP UNPAD. Kalaulah mengikuti hawa nafsu saja, saya sebetulnya ingin di rumah dulu. Saya ingin mengoptimalkan fitrah keibuan saya dalam membesarkan anak-anak. Saya ingin memunculkan bakat terpendam saya dalam memasak yang selama hidup saya belum tersalurkan (belum pinter masak hehe). Saya ingin mengaktualisasikan fitrah senang beberes selama setiap waktu yang saya punya. Alhamdulillah Qadarullah sauami saya melihat fitrah bakat dan potensi lain dalam diri saya “umi mah cocoknya ngajar”. Hal itupun diklarifikasi oleh tes bakat 3 bulan lalu, menggunakan metode DISC. Lalu sang konsutan HRD pun membarikan saran “kalau bisa mungkin cocok jadi dosen atau peneliti” hehe. Tapi semua keinginan itu masih wacana. Samailah sebuah informasi tentang lowongan dosen UNPAD sampai ke telinga kami. Awalnya saya nggak kepikiran, karena anak-anak masih kecil, dan suami insyaAllah akan lanjut S2. Biarlah gantian saya jaga anak-anak. Sementara perkara rezeki, saya adalah yang termasuk haqqul yaqin, selama perempuan memiliki suami yang bertanggung jawab dan mau berusaha, Allah telah menjamin rezeki bagi seluruh anggota keluarga yang ditanggung suaminya. Tapi, qadarullah suamilah yang kemudian mengingatkan bahwa perempuan bekerja bukanlah selalu tentang mencari nafkah. Ada urgensi kebutuhan peran muslimah di luar sana. Mengejar sebagai seorang dosen adalah tentang jihad dalam ilmu, mujahaddahnya seorang guru, seorang murabbi, dalam mengajarkan ilmu. Tak berhenti hingga disana, suamilah yang mengingatkan bahwa saya mengenal islam melalui halaqah quran di kampus Auckland, semangat Islamlah yang membuat saya semangat untuk S2, dan bahkan teringat dalam proposal pernikahan pun, kami azamkan bahwa pernikahan kami harus selalu dalam kerangka dakwah dan syar islam. Maka setelah diskusi sekian lama, berhari-hari saya memutuskan untuk maju menjadi dosen.”
            Itu tadi cerita dari Teh Karin mengenai beliau secara pribadi. Dari apa yang beliau sampaikan dapat kita lihat bahwa beliau dan suami patut menjadi contoh keluarga yang islami ya sahabat (aamiin). Bahkan dalam proposal nikahnya saja tertulis bahwa pernikahan mereka haruslah selalu dalam kerangka dakwah Islam, masya Allah indah banget kan (jangan baper haha).
            Lalu bagaimana pendapat Teh  Karin melihat makna dari kata “produktif” bagi perempuan? Dan apakah produktivitas selalu diukur dengan pekerjaan di luar rumah?. nah ini jawaban beliau, cekidooot...
            “masing-masing dari kita berhak memberikan definisi sendiri. Namun bagi saya, menjadi produktif adalah hak setiap ibu, terlepas apakah ia seorang ibu rumah tangga, student mom, atau working mom. Bagi saya, tolak ukur sebuah produktivitas diukur dari 3 hal, yakni :

1.      Sejauh mana setiap waktu yang kita miliki, dapat senantiasa dioptimalkan dalam kebaikan. Dan kriteria ini memberikan ruang seluas-luasnya bagi setiap ibu manapun, dengan potensi apapun. Satu hal yang saya yakini, “Allah tidak pernah menciptakan kita sebagai manusia biasa-biasa saja, apalagi ibu biasa-biasa saja. Karena kita semua dicipta untuk menjadi khalifah”. Maka tugas seorang ibu untuk bisa produktif, memerlukan usaha optimal untuk mengenali diri sendiri, menemukan tujuan penciptaan, menemukan peran terbaik yang Allah titipkan pada kita. Ketika kiita sudah menemukannya, maka tugas kita adalah beramal beramal dan beramal, memanfaatkan setiap waktu senantiasa dalam aktivitas kebaikan. Sekalipun aktivitas itu adalah merapihkan rumah, atau mengganti popok, atau memasak, dsb.

2.      Kriteria produktif bagi saya, bukan hanya kita melakukan amal keaikan tapi ia pun adalah amal yang penuh ikhlas dan taqwa. Kenapa? Karena kualitas keberkahan suatu amal, akan bergantung pada niat dan proses pelaksanaannya.  Produktif bermakna berkarya yang menghasilkan manfaat seluas-luasnya. Dan Allah lah yang Maha Menentukan, sejauh mana sebuah amal itu bermanfaat. Yang saya yakini ketika sebuah amal dilandasi oleh bekal niat yang ikhlas, dan dilaksanakan pebuh ketaqwaan, maka keberkahan dari amal tersebut akan melimpah berlipat ganda. Terlepas apapun kegiatannya. Maka, hapunten, saya adalah tipikal yang meyakini, tidak ada amal baik yang terlalu sepele untuk dilakukan. Jangan pernah meremehkan suatu amal yang menjadikan kita lupa kepada Siapa kita beramal. Boleh jadi, sebuah prestasi yang kita anggap besar, namun kecil nilainya disisi Allah. dan boleh jadi, suatu aktivitas yang kita anggap remeh, ternyata Allah limpahkan keberkahan luas didalamnya. Sebagai contoh, misalkan kita melihat suami lelah, padahal waktu sempit dan kita mungkin tak mampu memberikan pijitan hangat, ditambah ada anak-anak dsb. Kita memilih untuk membuatkan minuman kesukannya, yang didalamnya terselip doa tulus penuh harap kepada Allah. kalaulah Allah berkehendak menurunkan keberkahan, sangat mungkin, dari secangkir teh, ia berbuah menjadi rasa sakinah, kemudian sakinah itu menjelma menjadi semangat rasa optimis, dari sana ia berbuah lahi kepada hasil kerja suami yang lebih optimal, suami pun semakin membaik, dst. Dan itu bermula dari secangkit teh yang penuh berkah.

3.      Kriteria ke 3 bagi saya, kalaulah kita dihdapkan dengan berbagai pilihan kegiatan dan aktivitas. Maka prioritasnya adalah utamakan yang wajib baru yang sunnah, utamakan yang lebih banyak manfaatnya dan lebih sedikit mudharatnya. Tentangnya, bagaimana kita mengetahui mana yang terbaik? Disitulah kita harus senantiasa menjadi seorang penuntut ilmu. Menjadi seorang ibu, apapun status aktivitasnya, menuntu kita untuk senantiasa belajar. Minimal, kita harus belajar ilmu agama murni, aqidah, akhlaq, fiqih, Al-qur’an. Ilmu tentang pernikahan dan parenting. Ilmu tentang kesehatan, nutrisi, dan olahraga.

Nah itu tadi penjelasan dari Teh Karin soal makna produktif. Bagaimana sahabat? Udah banyak ilmu yang didapat? Hehe. Pembahasan kita masih banyaaaaak banget. Tapi saya tau, sahabat semua pasti lelah ya kalau baca terlalu lama hehe, saya juga lelah untuk menulis terlalu panjang, karena masih ada tugas yang lain hihi. Baiklah sahabat setia yang membaca tulisan saya, itu tadi pembahasan kita. Pertama perkenalan dari Teh Karin dan kemudian dilanjut dengan pertanyaan makna produktif dalam konteks perempuan.
Untuk tulisan selanjutnya, saya harap sahabat-sahabat lebih antusias lagi untuk membaca, karena ini ilmu yang super duper berharga banget buat perempuan. Kalau gitu, saya pamit undur diri dulu yaa.. akan kita sambung lagi, insyaaAllah hari senin. Okey?

Wassalamualaikum…