Kutemukanmu
dalam Ramadhan
(sahabat
sesurga)
Namaku… emm.. sepertinya aku tak perlu
memperkenalkan diri. Karena dengan membaca cerita ini kalian akan tau. Siapa
nama dan bagaimana kisahku. Insyaa Allah.
Aku
adalah anak perempuan biasa yang hidup sederhana. Pengetahuan mengenai agamaku
kurang. Pergaulanku tak buruk. Hanya saja, aku tak tau mengapa aku tak berhijab,
dan alasan mengapa orang islam berhijab. Aku Islam, namun apa itu Islam.
Hatiku belum bisa menerjemahkan itu. Namun pada ahirnya aku memilih untuk
memulai masa SMAku dengan mengenakan hijab
Tahun 2012
Setelah
lulus SMP aku memutuskan untuk mengenakan hijab. Dengan alasan “sepertinya aku
terlihat lebih cantik kalau berhijab hehe” ucapku didepan kaca.
“ris..
ikut ini yuk” ira menunjukkan sebuah pamflet padaku. Tertulis ‘PESANTREN
RAMADHAN’
“eh?
Kamu gak salah ngajak aku?” jawabku dengan heran
“nggaklah..
sebentarlagi kan Ramadhan, jadi momen yang pas mendekatkan diri pada Yang Maha
Kuasa. Kamu kan juga baru ber-hijab ni” sambil memegang jilbab putihku
Aku
hanya menatap pamflet itu dan wajah ira bergantian. Aku hanya bertanya-tanya.
Apakah bisa anak sepertiku ikut pesantren Ramadhan. Pesantren itu kan berat. Tidur
Cuma sebentar.
“trus..
kamu ikut kan?” tanyaku dengan berharap
“nggak,
aku jadi panitia” jawab ira
Aku
kecewa dengan jawabannya.
Ira
menceritakan semua pengalamannya dulu saat mengikuti pesantren Ramadhan. Dia
menceritakannya dengan semangat. Dan membuatku memutuskan….
“ya
aku ikut"
Keputusan menentukan masa depan. ya masadepanku di Ramadhan kali ini akan berubah.
Keputusan menentukan masa depan. ya masadepanku di Ramadhan kali ini akan berubah.
Hari-hari
berlalu. Tidak ada rasa ragu dan takut untuk menghadapi Ramadhan yang akan
berbeda di tahun ini.
Hingga hari perubahan itu tiba. H-1 Ramadhan adalah waktu yang aku tunggu untuk berangkat ke tempat Pesantren Ramadhan. Aku mengenakan baju muslim putih, rok hitam dan hijab berwarna putih. Pagi ini aku nampak berbeda. Bukan, ini bukan kemauanku. Ini adalah ketentuan dari panitia.
Hingga hari perubahan itu tiba. H-1 Ramadhan adalah waktu yang aku tunggu untuk berangkat ke tempat Pesantren Ramadhan. Aku mengenakan baju muslim putih, rok hitam dan hijab berwarna putih. Pagi ini aku nampak berbeda. Bukan, ini bukan kemauanku. Ini adalah ketentuan dari panitia.
“assalamualaikum,
pak buk Riska berangkat” ucapku pada orang tuaku yang saat itu berdiri
didepanku
“wa’alaikumsalam,
hati-hati” ucap bapak ibu-ku
Aku mencium tangan kedua orang tuaku seakan pergi untuk waktu yang lama. Wajar saja, ini adalah pertama kali aku jauh dari orang tua. Namun saat ini tak ada rasa bersalah sedikitpun
karena telah memilih merelakan 2 minggu Ramadhanku dengan orang lain.
Akupun
berangkat dengan menaiki becak. Maklum dirumah tak ada mobil yang bisa membawa
banyak barangku ini. Sesampainya di tempat.
“Assalamu’alaikum
dik, mari saya bantu” terdengar suara lembut dari hadapanku
“eh
iya? Wa’alaikumsalam” jawabku sambil merogoh uang untuk pak becak
“nama
saya Azizah” perempuan itu mengulurkan tangannya, nampaknya dia lebih tua
dariku
“riska”
jawabku singkat sambil membalas uluran tangannya
Aku
berjalan di belakang mbak azizah. Aku perhatikan dengan seksama bangunan yg berdiri megah dihadapanku. Masjid Agung kotaku. Masjid Agung At-taqwa. Aku heran,
mengapa aku baru merasakan kekaguman akan Masjid yang megah ini. Sedangkan aku hidup di kota ini hampir
17 tahun. Sesekali aku mengarahkan pandanganku pada mba Azizah, perempuan
anggun dengan suara yang lembut. Hijabnya panjang dan memakai gamis.
Sepertinya, dia sangat baik.
Sesampainya
di ruang panitia. Aku melihat semua memakai baju seperti mba Azizah.
Berseragam. Mereka berbeda dengan penampilan teman-temanku disekolah.
Sebenarnya wajar-wajar saja perempuan memakai hijab dan gamis, hanya saja aku
melihat mereka berbeda. Mungkin karena semua memakai baju yang sama dan di
lingkungan masjid. Emm mungkin begitu.
Sesampainya
di asrama, aku bertemu dengan perempuan-perempuan lainnya. Disini, peserta perempuan
dan laki-laki tidak boleh bertemu. Kecuali jika ada materi ustadz yang mengharuskan
antara perempuan dan laki-laki berkumpul dalam satu ruangan. Ribet, pikirku saat itu.
“baiklah
sekarang kalian ada tes mengaji ya” kata salah seorang panitia Pesantren
Ramadhan
“waduh..
pakai tes segala” kata seorang teman di belakang, namanya Annisa. Dia teman
yang lucu. Aku baru saja mengenalnya saat baru masuk asrama.
Saat
itu aku juga merasa takut. Sudah lama aku tidak mengaji. Apa masih ingat
huruf-huruf hijaiyah dan hukum bacaannya. Tanganku tiba-tiba menjadi dingin dan
ahirnya tibalah giliranku.
“baik,
silahkan duduk dik” kata seorang panitia yang entah siapa namanya, namun dengan
melihat dia bersikap, aku tau dia baik dan sedikit membuatku lega.
“dik
Riska ya?” Tanya-nya padaku
“iya mbak” jawabku sambil melihat Al-qur’an
yang ada dihadapanku
“nama
saya Zahra. Gak usah grogi ya..” sambil mengumbar senyum padaku.
Aku
hanya membalasnya dengan senyuman.
“coba
dik Riska baca surat ini ya” menunjuk surat Al-Mulk
Aku
membaca surat Al-Mulk dengan terbata-bata. Entah apakah aku yang grogi atau
ilmu mengajiku sudah hilang.
“alhamdulillah,
dik Riska ngajinya sudah baik, kalau terus berlatih pasti lebih baik lagi. Di
kelompok D ya dik” mbak Zahra memberikan
ID Card dan menuliskan kelompok D di bawah namaku.
Aku
keluar dengan perasaan lega.
“hai..
aku di A” suara Annisa mengagetkanku.
“aku
di D” jawabku singkat
Lalu
apa bedanya A dan D. toh sama saja. Tapi saat itu aku merasa sangat buruk
dibandingkan yang lain. Apakah aku terburuk? Seburuk inikah hasil
pembelajaranku di dunia?. Segitu sajakan persiapanku untuk akhirat?. Saat itu
aku berpikir mengenai amalku, mengenai diriku, mengenai aku di dunia ini. Aku
terdiam.
Malam-malam di munggu pertama akan menjadi malam yang berat untukku. Hanya ada jatah 2 jam untuk tidur dan sekolah
tetaplah berjalan seperti biasa. Aktifitasku di asrama adalah mengaji,
menghafal surat-surat di Juz Amma dan banyak ibadah lainnya. Pemberian materi
oleh ustadz dari pagi hingga jam 10.00 malam . setelah materi kami tidak bisa
langsung menuju asrama. Masih ada shalat hajat dan kemudian pemberian hukuman.
“riska,
annisa, Fasya, kemari” suara mbak Hani selaku panitia Keamanan memanggil dengan
nada yang tegas
Saat
itu aku sangat ingin berbaring diatas tikar dan bantal dari tas sekolah
yang kubuat sendiri. Namun, hukuman tetaplah hukuman yg harus dijalani, terpaksa aku menjauh dari tikar yg sedari tadi memanggil untuk ku berbaring diatasnya.
“karena
kalian telat pulang ke asrama, kalian mendapat hukuman membaca yaa sin 1 kali”
kata mbak Hani sambil menatap kami
“yess,
aku lagi haid mbak, jadiii…” Annisa Nampak senang
“oke,
annisa. Istighfar 300 kali” kata mbak Hani menyela ucapan Annisa
“hihihihi”
aku dan Fasya tertawa keci
Annisa kecewa. Aku dan
Fasya langsung merangkulnya “tenang aja, kita bareng-bareng kok” ucapku
padanya.
Malam
itu, adalah malam ke 4, ini adalah malam-malam yang berat. Sudah banyak yang
gugur dari pesantren Ramadhan ini. Entah karena Ia sakit atau sudah tidak betah
lagi dengan aturan dan jam yang padat. Jika boleh jujur, sebenarnya aku sangat
merindukan rumah, kamarku, dan masakan ibu.
Hari-hariku
biasa saja. Yaa aku menjalani hari-hariku disini dengan berat. Bahkan tidur di
jam kajian bersama Ustadz menjadi hobiku saat itu. Bahkan sampai salah seorang
teman membangunkanku, ustadz hanya mengatakan
“biarkan
saja, dia mengantuk”
Heran, mengapa beliau tidak marah
padaku.
Berat. Aku ingin pulang..
“asslamu’alaikum
adik-adikku” ucap salah seorang panitia. Ternyata mbak Azizah. Dia datang
bersama dengan panitia putri yang lain. Dan ada satu orang yang membuatku penasaran
padanya. Siapa dia.
“ini
adalah mbak Aisyah Azzahra” Mbak Azizah memperkenalkan perempuan yang sedari
tadi menarik perhatikanku.
Malam
itu adalah sesi curhat dengan panitia dengan bintang tamu mbak Aisyah yang
datang dengan kelembutannya hehe. Ada kalimat yang aku ingat saat itu, dia
bilang
“ribet
ya disini, capek ya disini, iyaa.. keluhan itu ada karena kita belum tau apa
tujuan kita disini. Lakukanlah semua ibadah disini dengan niat karena Allah
dik. Karena apapun yang melelahkan, jika Lillah, maka semua akan mudah kita
jalani”
Malam
itu, sebelum aku tidur, aku berpikir. Mengapa takdir membawaku ada di ruangan
sempit bersama teman-teman yang baru aku kenal ini. Rela tak ada bantal, tak
ada kasur yang empuk, rela hanya tidur selama 2 jam dan rela-rela melakukan
apapun yang menurutku tidak mengenakkan. Yang terpenting adalah, mengapa aku
disini? Mengapa?
Minggu pertama berahir. Dengan satu pertanyaan
“mengapa?”. Saat semuanya telah usai
shalat tarawih. Semua peserta putri berkumpul diruang kajian. Kali ini dengan
Ustadz Imam. Seperti biasa, aku mengantuk.
“nak,
apakah kalian senang berada disini?” Tanya ustadz pada kami
Semua
diam dan hanya mengumbar senyum.
“coba
kalian lihat diluar sana” ustadz berkata sambil mengarahkan pandangannya kearah
jendela. Aku dan teman-teman-pun ikut mengarahkan pandangan kami ke dua jendela
besar disebelah kanan kami. Kemudian ustadz melanjutkan.
“kalian
patut bahagia. Kalian haruslah bahagia. Karena mereka yang diluarsana tak
seberuntung kalian yang ada di dalam rumah Allah ini anak-anakku”. Beliau
menatapku dan teman-teman dengan tatapan yang begitu dalam, seperti tatapan
seorang ayah pada anaknya.
Mungkin
inilah jawaban dari pertanyaanku. Tuturku dalam hati
“kalian
adalah pilihan. Anak-anak pilihan yang telah Allah pilih untuk hadir disini,
lebih dekat pada Allah. Mungkin ada diantara kalian yang berangkat dengan
tujuan yang tak jelas. Namun hati kecil kalian berkata, “ya aku harus berangkat”.
Itulah Allah yang menggerakkan hati kalian. Lihatlah diri kalian, dan kemudian
lihatlah teman-teman kalian. Lihatlah semua orang yang ada disini. Kalian
dipertemukan karena Allah. Disini, di rumahNya. Kalian orang-orang pilihan,
jangan menyerah walau lelah, walau rindu rumah, karena Allah ada disini bersama
kalian, menemani kalian untuk menuju jalanNya”
Aku
tertunduk dan meneteskan air mata. inilah jawaban yang aku cari. Ini jawaban
dari semua hal yang aku lakukan disini. Pertemuanku dengan ira siang itu,
pertemuanku dengan mbak Azizah, kegelisahan yang tak pernah aku rasakan saat
melangkahkan kaki di tempat ini, pertemuanku dengan Annisa, mbak Aisyah, Fasya,
ustadz Imam dan semuanya. Itulah pertemuan yang telah Allah rancang untukku,
untuk mereka juga.
Yang jelas, yang aku
tau, saat ini Allah sedang mendekapku dalam pelukannya yang hangat. Dia begitu
sabar untuk menungguku mengerti akan arti bersusah payah dalam setiap
waktu.
Setelah berhari-hari
aku lakukan semua hal disini karena panitia. Namun kali ini, dengan sisa waktu
yang ada, insyaa Allah aku akan lakukan semuanya karena Allah.
Setiap pagi aku sambut
dengan semangat yang membara. Sejak saat itu aku tak pernah telat untuk datang
makan sahur, kajian dan belajar ngaji. Tak ada lagi tidur dikajian ustadz, dan tak
ada lagi catatan emoticon sedih dibuku catatan
kajianku. Hingga ahirnya semua usai…
“selamat ya dik riska,
sudah jadi top ten santri untuk tahun ini”
“makasi mbak”
Malam itu. Aku memeluk
mbak Azizah dan semua panitia. Aku berpelukan dengan mereka dengan tanda
terimakasi yang sangat banyak. Untuk pengalaman dan kesabaran mereka menghadapi
aku yang begitu sulit memulai kehidupanku di Masjid Allah ini.
“risskaaaa…. Hahah..
meskipun kita pernah dihukum, kita tetap jadi yang terbaik kan”
Annisa datang dengan
wajah ceria. Dia memelukku secara tiba-tiba. Malam ini kami mendapatkan
penghargaan sebagai santri terbaik dari semua santri yang mengikuti pesantren
Ramadhan ini. Namun aku tak memperdulikan itu. Karena, pengalaman disini lebih
berharga dari apapun. Dan penghargaan dari Allah untukku lebih aku utamakan.
Aku akan hijrah, memulai hidupku yang baru, hidupku yang indah dengan sejuta
cintaNYA.
“makanannya enak nak?”
bapak mengajakku bicara
“em iya pak” jawabku
pelan
Saat itu. Aku rindu..
bukan, bukan rindu rumah. Aku rindu asrama. Rindu sahur bersama dengan teman-teman
asrama putri. Ramai, penuh canda dan hal unik lainnya. Aku rindu kebersamaan
itu. Diam-diam aku rindu.
Sahabat sesurga ialah sahabat yang hanya akan kita temukan
dalam pencarian cintaNya yang suci. Merekalah orang-orang yang juga mengejar
cintaNya. Dimana orang lain mengatakan “kau berlebihan akan agamamu”. Ya memang
berlebihan, berlebihan akan ketakutan padaNya. Merekalah yang berjuang.
Berjuang meraih cinta yang seutuhnya, cinta dunia dan akhirat.
Bahkan jika kau tidak
menemukannya dalam kehidupan selanjutnya. Sahabat sesurga tidak akan pernah
benar-benar pergi meninggalkanmu, kalian akan selalu ada dalam do’a-do’anya,
dan bahkan mungkin kalian akan dapatkan syafaat darinya.
Dimanakah kita akan
menemukan sahabat sesurga? Dan bagaimana caranya? Ini adalah caraku untuk
istiqamah mendekat padaNya dengan sahabat sesurga..
1. Carilah
dia dalam doamu, mintalah kepada Allah untuk selalu didekatkan dengan orang
saleh dan salehah
2. Ikuti
kajian agama, atau acara-acara mengenai Islam. Disana kalian akan bertemu
dengan sahabat yang sevisi, insyaaAllah
3. Buatlah
perkumpulan khusus yang positif. Misal one day one page. Mengaji sehari 1
halaman secara rutin.
4. Jadikan
Al-qur’an sahabat sesurgamu
Inti dari ke 4 tips
tersebut. carilah sahabat sesurga yang saat kita memandangnya, kita
teringat Allah, dan mendengar kata-katanya menambah ilmu agama kita, melihat
gerak-geriknya teringat akan kematian.
Selamat
memburu sahabat sesurgamu sahabat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar