Assalamualaikum
sahabat, terima kasih karena sudah menyempatkan untuk membaca tulisan saya. Semoga
dengan ini semakin bertambah semangat kita untuk belajar, dan meraih RidhaNya
(aamiin). Apa kabar sahabat? Semoga baik yaa.. dan selalu dalam lindungan Allah
SWT (aamiin). Sahabat, kali ini sesuai dengan janji saya, saya akan
menyampaikan lanjutan dari pengalaman saya mengikuti seminar THRU, kalau kalian
belum tau THRU itu apa, kalian bisa baca di pengalaman THRU part pertama yaa.. Mau
ngingetin lagi, materi ini di sampaikan oleh Teh Karina Hakman. Naah bagi yang
belum tau siapa Teh Karin, sok atuh di baca Part satunyaa.. hehe jadi intinya,
baca part satu dulu baru yang ini yaaah..
Ada beberapa
pertanyaan yang akan diajukan kali ini. untuk konsep penulisan saya, tetap akan
saya sajikan seperti tanya jawab dalam seminar online ya sahabaat.. silahkan
disimak pertanyaan pertama dari salah satu peserta mengenai bagaimana cara
membagi waktu versi Teh Karin nih hehe,
Asslamualaikum mbak,
mau Tanya, gimana bagi waktu pas masih kuliah sama ngasuh anak? Setelah lahir
anaknya dititipkan atau gimana?
InsyaaAlllah saya coba
bagi menjadi 2 tahap : pembagian waktu ideal dan realita terjadi. Idealnya,
sederhananya, ketika saya kuliah, maka suami kerja part time. Meskipun asi
eksklusif, rencananya ingin pumping. Semuanya rencana awal. Realitanya ?
Yaa realitanya :
1. Saya gak berhasil pumping. Sejak lahir sampai anak –anak usia 6 bulan,
anak-anak selalu ikut kemanapun saya pergi. Termasuk kuliah.
Alhamdulillah, seluruh civitas Monhas mendukung saya untuk membawa anak ke
kampus, menyusui di kelas, sambil mendengar dan mencatat, suami ikut ke kampus,
menunggu di luar kelas. Ketika episode Maryam yang asi eksklusif, suami di luar
bersama yusuf. Kalau asi sudah beres, maka saya bawa Maryam ke luar ke luar
kelas, main dengan abi dan Yusuf.
2. Realitanya, tugas yang banyak, yang rencananya harus dikerjakan di malam
hari, seringkali gagal terkerjakan sesuai dengan jadwal.
Saya memiliki satu ginjal. Daya tahan tubuh dan stamina saya harus
betul-betul dijaga.
Selain itu, selama hamil Maryam (tingkat 1 kuliah), saya 2 atau 3 kali
mengalami perdarahan ringan. Harus istirahat total dan mengurangi berbagai
kegiatan melelahkan.
Lalu bagaimana?
Sebetulnya, intinya, saya ngerasa nggak ada lagi yang
bisa saya lakukan, kecuali untuk tetap bergerak semampu saya. Tetap belajar dan
mengerjakan tugas meski ada bersitan bahwa saya gak akan bisa menyelesaikannya.
Tetap berdoa di saat saya terkapar , dan tidak mampu melakukan apa-apa. Dan justru episode terindah adalah ketika
kita menyadari tidak mampu melakukan sesuatu, dan hanya Allah lah yang mampu
menyelesaikannya”.
Qodarullah, tidak
terhitung berbagai kemudahan rezeki dari Allah sepanjang kehidupan student mom
saya, mulai dari perpanjangan waktu tugas, nilai yang ternyata bagus, dan ujian
yang ternyata memberikan soal sesuai dengan materi yang saya pelajari. Allahua’lam
bishawab.
Alhamdulillah
itu tadi pertanyaan pertama di part 2 ini sahabat. Apa yang bisa kita dapat? Ternyata
Teh Karin sudah merencakan apa-apa yang akan beliau lakukan setelah bersuami
dan memiliki anak. Namun ternyata antara rencana dan realita jauh banget ya. Disitulah
tantangan mulai datang sampai beliau sakit, namun apa poin pentingnya? Poin
pentingnya ialah bahwa sesulit apapun
tantangan yang kita hadapi, Allah sudah memberikan sesuai dengan kemampuan kita
dan jika kita melakukan tantangan itu dengan ikhlas karena Allah, maka Allah
akan memberikan kemudah-kemudahan dari jalan yang tak kita sangka-sangka. masyaAllah,
Allah memang pemberi solusi terbaik yaa..
Oiya ada
pertanyaan mengenai buku apa ni yang harus dimiliki perempuan kalau mau belajar
ilmu parenting (parenting itu ilmu cara mendidik anak). Eh tapi ada yang
bilang, “ris ngapain sih belajar perenting? Kan kita masih muda?” nah jawaban
saya adalah, justru karena kita masih mudah, masih panjang waktunya, jadi
perbanyakin ilmu untuk mempersiapkan masa depanmu, dan masa depan
generasi-generasi kita itu perluu looh, jangan malu belajar parenting, ini
adalah ilmu yang super duper penting buat perempuan. Eh yaa sampai lupa buku
apa yaa yang harus dimiliki, nah ini jawaban Teh Karin
Kalau belum menikah,
mulailah dengan mempelajari buku pernikahan dan fiqih wanita. Buku nikah bisa
yang Mahkota Pengantin atau bahaianya merayakan cinta (untuk pemula). Kalau lebih
dari itu, ada yang lain. Fiqih wanita yang sederhana dan rangkuman, oleh Syekh
kami Muhammad Uwaidah, biasanya satu buku cukup. Kalau mau lebih dalam, ada
juga kebebasan wanita, berisi 6 jilid. Buku parenting, saya sendiri pakai 2
buku yang saling melengkapi, yaitu : Tarbiyatul Aulad fil Islam dan Prophetic
Parenting. Selain dari dua buku itu, buku lain yang menurut saya sangat bagus
bukunya Fitrah Based Education oleh Harry Santosa. Baguss banget walaupun saya
belum punya, cukup mahal, tapi saya pelajari isinya online dari fb penulisnya.
Tuh dah list buku yang sahabat bisa beli kalau mau belajar yaa. Ada yang
penasaran gak keseharian Teh Karin itu ngapain aja yaa, karena mungkin saja sahabat
disini ada yang merasa kehidupannya sia-sia dan waktu habis percuma,
naudzubillah.. semoga yang mengalami ini segera usai ya, dan yang belum semoga
saja gak pernah ya ngalami ini, istighfar dulu yuk.. jangan sampai kita masuk
dalam golongan yang merugi. Inilah jawaban Teh Karin soal kegiatan-kegiatan
beliau.
Kegiatan harian saya
bervariasi sekali. Seringkali banyak kejutan. Sebetulnya yang menurut saya lebih
pentng untuk dijawab adalah KENAPA
MERASA WAKTU TERBUANG PERCUMA, mungkin perlu di telusuri nih,
-
apakah pekerjaan itu sesuai dengan “muyul”
ukhti atau tidak
-
apakah dalam pekerjaan tersebut
terdapat manfaat atau tidak
- apakah pekerjaan tersebut melibatkan
maksiat yang mengurangi atau bahkan menghapus keberkahan atau tidak
karena seharusnya amal
kebaikan yang satu, akan membimbing kepada amal kebaikan lainnya. Seharusnya,
setelah beramal saleh, kita akan merasakan kepuasan syukur lahir dan barin. Alllahualam
bishawab, hapunten kalau ada salah dan kurang.
Tambahan lagi :
Masalah pengaturan waktu,
menurut saya, tidak ada one best answer. Karena culture dan kondisi rumah
tangga seyiap kita berbeda. Kalau saya usahakan menjadi pedomannya adalah :
1. setiap kegiatan dibagi meyesuaikan jadwal shalat dulu
2. belajar dari Teh Yuria Cleopatra (Teh Patra), jangan jadikan anak sebagai
alasan menunda shalat. Silahkan cek fn beliau bagaimana tips dan trik mengatur
kulitas ibadah dan shalat.
3. Belajarlah untuk khusyuk dalam melaksanakans segala sesuatu.
Khusyuk disini bermakna :
-
Arti sebenarnya : mengingati bahwa
kita akan kembali kepada Allah
-
Arti terapan : bersikap mindful,
fokus, dalam mengerjakan sesuatu sehingga setiap pekerjaan yang dilaukan pada
saat itu bisa terlaksana dengan cepat, baik, dan tuntas
4. Hindari stress dengan multi tasking pada saat menjada anak. Menjada anak
sambil mengejar deadline hanya akan membuat frustasi. Kalau harus menjaga anak,
lepaskan segala beban, tapi jalau sedang beraktifitas di luar, keluarga tetap
terpatri didalam hati. Karena menjadi sebagian jawaban sudah diatas ya.
Ssooo.. poin penting apa yang kita
dapat dari pertanyaan terakhir ini? BAGILAH
WAKTU MENYESUAIKAN WAKTU SHALAT. Jangan menunda shalat itu intinya. Saya pernah
datang kesebuah seminar islami, ada 2 pemateri yang hadir disana, beliau-beliau diberi pertanyaan
yang sama yakni bagaimana mereka membagi waktu. Jawaban mereka adalah sama,
yakni MULAILAH HARI DENGAN HAL YANG
BAIK, YAKNI SHALAT SUBUH TEPAT WAKTU. Jadi gituu sahabat.. cara ampuh
membagi waktu.
Jazakumullah khair sahabat, makasi sekali lagi karena sudah menyempatkan untuk membaca, semoga menjadi amal kebaikan untuk kita semua, aamii
wassalamualaikum

Tidak ada komentar:
Posting Komentar