Kamis, 09 November 2017

MENJADI PEREMPUAN HEBAT (pengalaman THRU 1)



          


          
Assalamualaikum sahabat. Terima kasih karena telah menyempatkan untuk  membaca tulisan saya hari ini. semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin. Sesuai dengan apa yang sudah saya sampaikan melalui media sosial saya, bahwa kali ini saya akan menyampaikan ilmu yang saya dapat dari seminar online yang diadakan oleh The Real Ummi  (THRU) dengan judul materi Keluarga Muda : Be a Productive Mom.
            THRU adalah sebuah learning and sharing platform bertema keluarga dan pengasuhan anak. Saya bukan pengurus inti dari THRU. Saya hanya pendaftar dan masuk didalam grup THRU melalui telegram. Saya rasa grup ini sangat bermanfaat bagi perempuan. Jadi saya ingin membagi ilmu yang saya dapat untuk teman-teman akhwat (perempuan) disini dengan melanjutkan misi sederhana dari THRU yakni ingin membangun kesadaran bersama pentingnya membekali diri dan menyiapkan ilmu dalam membangun keluarga dan menjadi orang tua, khususnya bagi para perempuan yang akan menjadi madrasah pertama dan utama bagi buah hatinya.
            Tulisan saya kali ini akan dikonsep lebih ringan seperti kita mengikuti sebuah seminar online. Perlu diketahui sebelumnya bahwa yang menjad pemateri pada event THRU kali ini ialah Teh Karina Hakman, Ibu muda sekaligus awardee LPDP lulusan Auckland dan Monhas University. Waahh keren banget yaa beliau. Nah kalau sahabat udah penasaran banget seperti apa Teh Karina, yuk dilanjut bacanya, saya akan menulis apa-apa yang disampaikan oleh beliau dan pertanyaan dari teman-teman yang ditujukan untuk beliau.
             Bismillahirahmnanirahim… yuk kita baca perkenalan singkat dari Teh Karin dulu.
“perkenalkan nama saya Nadia Karina Hakman, biasa dipanggil Teh Karin. Tahun 2009-2013 alhamdulillah Allah memberikan amanah bagi saya untuk kuliah S1 di University Of Auckland, New Zealend, mengambil Bachelor of Commercee dengan beasiswa yang saya dapat. Tanggal 4 jan 2014, Alhamdulillah saya menikah dan hingga sekarang dikaruniai 2 orang anak. Yusuf dan Maryam. Setelah menikah, hasil musyawarah keluarga kami, saya memutuskan untuk melanjutkan studi S2. Alhamdulillah, tahun 2014-2016, Allah mengizinkan saya melanjutkan studi S2 mengambil Master of Business, Monhas University, Australia. Pendidikan ini didukung oleh beasiswa penuh dari LPDP. Setelah pulang ke Indonesia, terhitung bulan Agustus lalu, Alhamdulillah saya sudah diterima menjadi calon dosen tetap non PNS di FE UNPAD, dan dosen part time FTIP UNPAD. Kalaulah mengikuti hawa nafsu saja, saya sebetulnya ingin di rumah dulu. Saya ingin mengoptimalkan fitrah keibuan saya dalam membesarkan anak-anak. Saya ingin memunculkan bakat terpendam saya dalam memasak yang selama hidup saya belum tersalurkan (belum pinter masak hehe). Saya ingin mengaktualisasikan fitrah senang beberes selama setiap waktu yang saya punya. Alhamdulillah Qadarullah sauami saya melihat fitrah bakat dan potensi lain dalam diri saya “umi mah cocoknya ngajar”. Hal itupun diklarifikasi oleh tes bakat 3 bulan lalu, menggunakan metode DISC. Lalu sang konsutan HRD pun membarikan saran “kalau bisa mungkin cocok jadi dosen atau peneliti” hehe. Tapi semua keinginan itu masih wacana. Samailah sebuah informasi tentang lowongan dosen UNPAD sampai ke telinga kami. Awalnya saya nggak kepikiran, karena anak-anak masih kecil, dan suami insyaAllah akan lanjut S2. Biarlah gantian saya jaga anak-anak. Sementara perkara rezeki, saya adalah yang termasuk haqqul yaqin, selama perempuan memiliki suami yang bertanggung jawab dan mau berusaha, Allah telah menjamin rezeki bagi seluruh anggota keluarga yang ditanggung suaminya. Tapi, qadarullah suamilah yang kemudian mengingatkan bahwa perempuan bekerja bukanlah selalu tentang mencari nafkah. Ada urgensi kebutuhan peran muslimah di luar sana. Mengejar sebagai seorang dosen adalah tentang jihad dalam ilmu, mujahaddahnya seorang guru, seorang murabbi, dalam mengajarkan ilmu. Tak berhenti hingga disana, suamilah yang mengingatkan bahwa saya mengenal islam melalui halaqah quran di kampus Auckland, semangat Islamlah yang membuat saya semangat untuk S2, dan bahkan teringat dalam proposal pernikahan pun, kami azamkan bahwa pernikahan kami harus selalu dalam kerangka dakwah dan syar islam. Maka setelah diskusi sekian lama, berhari-hari saya memutuskan untuk maju menjadi dosen.”
            Itu tadi cerita dari Teh Karin mengenai beliau secara pribadi. Dari apa yang beliau sampaikan dapat kita lihat bahwa beliau dan suami patut menjadi contoh keluarga yang islami ya sahabat (aamiin). Bahkan dalam proposal nikahnya saja tertulis bahwa pernikahan mereka haruslah selalu dalam kerangka dakwah Islam, masya Allah indah banget kan (jangan baper haha).
            Lalu bagaimana pendapat Teh  Karin melihat makna dari kata “produktif” bagi perempuan? Dan apakah produktivitas selalu diukur dengan pekerjaan di luar rumah?. nah ini jawaban beliau, cekidooot...
            “masing-masing dari kita berhak memberikan definisi sendiri. Namun bagi saya, menjadi produktif adalah hak setiap ibu, terlepas apakah ia seorang ibu rumah tangga, student mom, atau working mom. Bagi saya, tolak ukur sebuah produktivitas diukur dari 3 hal, yakni :

1.      Sejauh mana setiap waktu yang kita miliki, dapat senantiasa dioptimalkan dalam kebaikan. Dan kriteria ini memberikan ruang seluas-luasnya bagi setiap ibu manapun, dengan potensi apapun. Satu hal yang saya yakini, “Allah tidak pernah menciptakan kita sebagai manusia biasa-biasa saja, apalagi ibu biasa-biasa saja. Karena kita semua dicipta untuk menjadi khalifah”. Maka tugas seorang ibu untuk bisa produktif, memerlukan usaha optimal untuk mengenali diri sendiri, menemukan tujuan penciptaan, menemukan peran terbaik yang Allah titipkan pada kita. Ketika kiita sudah menemukannya, maka tugas kita adalah beramal beramal dan beramal, memanfaatkan setiap waktu senantiasa dalam aktivitas kebaikan. Sekalipun aktivitas itu adalah merapihkan rumah, atau mengganti popok, atau memasak, dsb.

2.      Kriteria produktif bagi saya, bukan hanya kita melakukan amal keaikan tapi ia pun adalah amal yang penuh ikhlas dan taqwa. Kenapa? Karena kualitas keberkahan suatu amal, akan bergantung pada niat dan proses pelaksanaannya.  Produktif bermakna berkarya yang menghasilkan manfaat seluas-luasnya. Dan Allah lah yang Maha Menentukan, sejauh mana sebuah amal itu bermanfaat. Yang saya yakini ketika sebuah amal dilandasi oleh bekal niat yang ikhlas, dan dilaksanakan pebuh ketaqwaan, maka keberkahan dari amal tersebut akan melimpah berlipat ganda. Terlepas apapun kegiatannya. Maka, hapunten, saya adalah tipikal yang meyakini, tidak ada amal baik yang terlalu sepele untuk dilakukan. Jangan pernah meremehkan suatu amal yang menjadikan kita lupa kepada Siapa kita beramal. Boleh jadi, sebuah prestasi yang kita anggap besar, namun kecil nilainya disisi Allah. dan boleh jadi, suatu aktivitas yang kita anggap remeh, ternyata Allah limpahkan keberkahan luas didalamnya. Sebagai contoh, misalkan kita melihat suami lelah, padahal waktu sempit dan kita mungkin tak mampu memberikan pijitan hangat, ditambah ada anak-anak dsb. Kita memilih untuk membuatkan minuman kesukannya, yang didalamnya terselip doa tulus penuh harap kepada Allah. kalaulah Allah berkehendak menurunkan keberkahan, sangat mungkin, dari secangkir teh, ia berbuah menjadi rasa sakinah, kemudian sakinah itu menjelma menjadi semangat rasa optimis, dari sana ia berbuah lahi kepada hasil kerja suami yang lebih optimal, suami pun semakin membaik, dst. Dan itu bermula dari secangkit teh yang penuh berkah.

3.      Kriteria ke 3 bagi saya, kalaulah kita dihdapkan dengan berbagai pilihan kegiatan dan aktivitas. Maka prioritasnya adalah utamakan yang wajib baru yang sunnah, utamakan yang lebih banyak manfaatnya dan lebih sedikit mudharatnya. Tentangnya, bagaimana kita mengetahui mana yang terbaik? Disitulah kita harus senantiasa menjadi seorang penuntut ilmu. Menjadi seorang ibu, apapun status aktivitasnya, menuntu kita untuk senantiasa belajar. Minimal, kita harus belajar ilmu agama murni, aqidah, akhlaq, fiqih, Al-qur’an. Ilmu tentang pernikahan dan parenting. Ilmu tentang kesehatan, nutrisi, dan olahraga.

Nah itu tadi penjelasan dari Teh Karin soal makna produktif. Bagaimana sahabat? Udah banyak ilmu yang didapat? Hehe. Pembahasan kita masih banyaaaaak banget. Tapi saya tau, sahabat semua pasti lelah ya kalau baca terlalu lama hehe, saya juga lelah untuk menulis terlalu panjang, karena masih ada tugas yang lain hihi. Baiklah sahabat setia yang membaca tulisan saya, itu tadi pembahasan kita. Pertama perkenalan dari Teh Karin dan kemudian dilanjut dengan pertanyaan makna produktif dalam konteks perempuan.
Untuk tulisan selanjutnya, saya harap sahabat-sahabat lebih antusias lagi untuk membaca, karena ini ilmu yang super duper berharga banget buat perempuan. Kalau gitu, saya pamit undur diri dulu yaa.. akan kita sambung lagi, insyaaAllah hari senin. Okey?

Wassalamualaikum…

2 komentar: