THRU adalah sebuah learning and
sharing platform bertema keluarga dan pengasuhan anak. Saya bukan pengurus inti
dari THRU. Saya hanya pendaftar dan masuk didalam grup THRU melalui telegram. Saya
rasa grup ini sangat bermanfaat bagi perempuan. Jadi saya ingin membagi ilmu
yang saya dapat untuk teman-teman akhwat (perempuan) disini dengan melanjutkan
misi sederhana dari THRU yakni ingin membangun kesadaran bersama pentingnya
membekali diri dan menyiapkan ilmu dalam membangun keluarga dan menjadi orang
tua, khususnya bagi para perempuan yang akan menjadi madrasah pertama dan utama
bagi buah hatinya.
Tulisan saya kali ini akan dikonsep
lebih ringan seperti kita mengikuti sebuah seminar online. Perlu diketahui
sebelumnya bahwa yang menjad pemateri pada event THRU kali ini ialah Teh Karina
Hakman, Ibu muda sekaligus awardee LPDP lulusan Auckland dan Monhas University.
Waahh keren banget yaa beliau. Nah kalau sahabat udah penasaran banget seperti
apa Teh Karina, yuk dilanjut bacanya, saya akan menulis apa-apa yang
disampaikan oleh beliau dan pertanyaan dari teman-teman yang ditujukan untuk
beliau.
Bismillahirahmnanirahim… yuk kita baca perkenalan
singkat dari Teh Karin dulu.
“perkenalkan nama saya Nadia Karina
Hakman, biasa dipanggil Teh Karin. Tahun 2009-2013 alhamdulillah Allah
memberikan amanah bagi saya untuk kuliah S1 di University Of Auckland, New Zealend,
mengambil Bachelor of Commercee dengan beasiswa yang saya dapat. Tanggal 4 jan
2014, Alhamdulillah saya menikah dan hingga sekarang dikaruniai 2 orang anak. Yusuf
dan Maryam. Setelah menikah, hasil musyawarah keluarga kami, saya memutuskan
untuk melanjutkan studi S2. Alhamdulillah, tahun 2014-2016, Allah mengizinkan
saya melanjutkan studi S2 mengambil Master of Business, Monhas University,
Australia. Pendidikan ini didukung oleh beasiswa penuh dari LPDP. Setelah pulang
ke Indonesia, terhitung bulan Agustus lalu, Alhamdulillah saya sudah diterima
menjadi calon dosen tetap non PNS di FE UNPAD, dan dosen part time FTIP UNPAD. Kalaulah
mengikuti hawa nafsu saja, saya sebetulnya ingin di rumah dulu. Saya ingin
mengoptimalkan fitrah keibuan saya dalam membesarkan anak-anak. Saya ingin
memunculkan bakat terpendam saya dalam memasak yang selama hidup saya belum
tersalurkan (belum pinter masak hehe). Saya ingin mengaktualisasikan fitrah
senang beberes selama setiap waktu yang saya punya. Alhamdulillah Qadarullah
sauami saya melihat fitrah bakat dan potensi lain dalam diri saya “umi mah
cocoknya ngajar”. Hal itupun diklarifikasi oleh tes bakat 3 bulan lalu,
menggunakan metode DISC. Lalu sang konsutan HRD pun membarikan saran “kalau
bisa mungkin cocok jadi dosen atau peneliti” hehe. Tapi semua keinginan itu
masih wacana. Samailah sebuah informasi tentang lowongan dosen UNPAD sampai ke
telinga kami. Awalnya saya nggak kepikiran, karena anak-anak masih kecil, dan
suami insyaAllah akan lanjut S2. Biarlah gantian saya jaga anak-anak. Sementara
perkara rezeki, saya adalah yang termasuk haqqul yaqin, selama perempuan
memiliki suami yang bertanggung jawab dan mau berusaha, Allah telah menjamin
rezeki bagi seluruh anggota keluarga yang ditanggung suaminya. Tapi, qadarullah
suamilah yang kemudian mengingatkan bahwa
perempuan bekerja bukanlah selalu tentang mencari nafkah. Ada urgensi
kebutuhan peran muslimah di luar sana. Mengejar sebagai seorang dosen adalah
tentang jihad dalam ilmu, mujahaddahnya seorang guru, seorang murabbi, dalam
mengajarkan ilmu. Tak berhenti hingga disana, suamilah yang mengingatkan bahwa
saya mengenal islam melalui halaqah quran di kampus Auckland, semangat Islamlah
yang membuat saya semangat untuk S2, dan bahkan teringat dalam proposal
pernikahan pun, kami azamkan bahwa
pernikahan kami harus selalu dalam kerangka dakwah dan syar islam. Maka setelah
diskusi sekian lama, berhari-hari saya memutuskan untuk maju menjadi dosen.”
Itu tadi cerita dari Teh Karin mengenai beliau secara pribadi. Dari apa yang
beliau sampaikan dapat kita lihat bahwa beliau dan suami patut menjadi contoh
keluarga yang islami ya sahabat (aamiin). Bahkan dalam proposal nikahnya saja
tertulis bahwa pernikahan mereka haruslah selalu dalam kerangka dakwah Islam,
masya Allah indah banget kan (jangan baper haha).
Lalu
bagaimana pendapat Teh Karin melihat
makna dari kata “produktif” bagi perempuan? Dan apakah produktivitas selalu
diukur dengan pekerjaan di luar rumah?. nah ini jawaban beliau, cekidooot...
“masing-masing
dari kita berhak memberikan definisi sendiri. Namun bagi saya, menjadi
produktif adalah hak setiap ibu, terlepas apakah ia seorang ibu rumah tangga,
student mom, atau working mom. Bagi saya, tolak ukur sebuah produktivitas
diukur dari 3 hal, yakni :
1. Sejauh mana
setiap waktu yang kita miliki, dapat senantiasa dioptimalkan dalam kebaikan. Dan
kriteria ini memberikan ruang seluas-luasnya bagi setiap ibu manapun, dengan
potensi apapun. Satu hal yang saya yakini, “Allah tidak pernah menciptakan kita
sebagai manusia biasa-biasa saja, apalagi ibu biasa-biasa saja. Karena kita
semua dicipta untuk menjadi khalifah”. Maka tugas seorang ibu untuk bisa
produktif, memerlukan usaha optimal untuk mengenali diri sendiri, menemukan
tujuan penciptaan, menemukan peran terbaik yang Allah titipkan pada kita.
Ketika kiita sudah menemukannya, maka tugas kita adalah beramal beramal dan
beramal, memanfaatkan setiap waktu senantiasa dalam aktivitas kebaikan. Sekalipun
aktivitas itu adalah merapihkan rumah, atau mengganti popok, atau memasak, dsb.
2. Kriteria produktif
bagi saya, bukan hanya kita melakukan amal keaikan tapi ia pun adalah amal yang
penuh ikhlas dan taqwa. Kenapa? Karena kualitas keberkahan suatu amal, akan
bergantung pada niat dan proses pelaksanaannya.
Produktif bermakna berkarya yang menghasilkan manfaat seluas-luasnya. Dan
Allah lah yang Maha Menentukan, sejauh mana sebuah amal itu bermanfaat. Yang saya
yakini ketika sebuah amal dilandasi oleh bekal niat yang ikhlas, dan
dilaksanakan pebuh ketaqwaan, maka keberkahan dari amal tersebut akan melimpah
berlipat ganda. Terlepas apapun kegiatannya. Maka, hapunten, saya adalah
tipikal yang meyakini, tidak ada amal baik yang terlalu sepele untuk dilakukan.
Jangan pernah meremehkan suatu amal yang menjadikan kita lupa kepada Siapa kita
beramal. Boleh jadi, sebuah prestasi yang kita anggap besar, namun kecil
nilainya disisi Allah. dan boleh jadi, suatu aktivitas yang kita anggap remeh,
ternyata Allah limpahkan keberkahan luas didalamnya. Sebagai contoh, misalkan
kita melihat suami lelah, padahal waktu sempit dan kita mungkin tak mampu
memberikan pijitan hangat, ditambah ada anak-anak dsb. Kita memilih untuk
membuatkan minuman kesukannya, yang didalamnya terselip doa tulus penuh harap
kepada Allah. kalaulah Allah berkehendak menurunkan keberkahan, sangat mungkin,
dari secangkir teh, ia berbuah menjadi rasa sakinah, kemudian sakinah itu
menjelma menjadi semangat rasa optimis, dari sana ia berbuah lahi kepada hasil
kerja suami yang lebih optimal, suami pun semakin membaik, dst. Dan itu bermula
dari secangkit teh yang penuh berkah.
3. Kriteria ke 3
bagi saya, kalaulah kita dihdapkan dengan berbagai pilihan kegiatan dan aktivitas.
Maka prioritasnya adalah utamakan yang wajib baru yang sunnah, utamakan yang
lebih banyak manfaatnya dan lebih sedikit mudharatnya. Tentangnya, bagaimana
kita mengetahui mana yang terbaik? Disitulah kita harus senantiasa menjadi
seorang penuntut ilmu. Menjadi seorang ibu, apapun status aktivitasnya, menuntu
kita untuk senantiasa belajar. Minimal, kita harus belajar ilmu agama murni,
aqidah, akhlaq, fiqih, Al-qur’an. Ilmu tentang pernikahan dan parenting. Ilmu tentang
kesehatan, nutrisi, dan olahraga.
Nah itu tadi
penjelasan dari Teh Karin soal makna produktif. Bagaimana sahabat? Udah banyak
ilmu yang didapat? Hehe. Pembahasan kita masih banyaaaaak banget. Tapi saya
tau, sahabat semua pasti lelah ya kalau baca terlalu lama hehe, saya juga lelah
untuk menulis terlalu panjang, karena masih ada tugas yang lain hihi. Baiklah sahabat
setia yang membaca tulisan saya, itu tadi pembahasan kita. Pertama perkenalan
dari Teh Karin dan kemudian dilanjut dengan pertanyaan makna produktif dalam
konteks perempuan.
Untuk tulisan
selanjutnya, saya harap sahabat-sahabat lebih antusias lagi untuk membaca,
karena ini ilmu yang super duper berharga banget buat perempuan. Kalau gitu,
saya pamit undur diri dulu yaa.. akan kita sambung lagi, insyaaAllah hari
senin. Okey?
Wassalamualaikum…

Makasih mbak sudah berbagi. Alhamdulillah dapat wawasan baru
BalasHapusjazakillah khair
BalasHapus