Assalamualaikum
sahabat, terima kasih karena telah menyempatkan untuk membaca tulisan saya hari ini. Semoga kita semua selalu di rahmati oleh Allah SWT, aamiin
Judul
tulisan saya kali ini sama dengan judul dari sebuah lagu dari Muezza. Akan lebih sempurna jika sahabat
mendengarkan lagunya terlebih dahulu baru membaca tulisan saya hehe.
Lagu
ini bercerita mengenai sebuah pilihan dalam hati, qalbu mengenai cinta.
“saat cinta menghampirimu menawarkan seluruh
pesonanya, tunggulah hingga sejati melengkapinya”
Mungkin dari
sebaris lirik lagu diatas, sahabat sudah tau maksud dari lagu yang dibawakan
oleh muezza. lagu ini mengajarkan bahwa cinta itu indah. Kalau mau cintanya
sejati dan indah, maka dekati pemilik cinta, itulah sekilas maksud dari isi
lagu yang dibawakan oleh grup nasyid Muezza.
Salah
satu sahabat saya mengatakan seperti ini “dunia ini memiliki rasa, ada takut,
sakit, gembira, sedih dan banyak lagi, dan semua itu bermuara pada satu rasa,
cinta”. Lalu kenapa di paragraf sebelumnya
saya mengatakan cinta itu indah? Padahal ada rasa sedih dan takut. Ya, cinta
itu indah jika kita benar dalam menyikapi semua rasa yang bermuara pada cinta
itu sendiri.
Ustadz
Hanan bercerita begini “ada orang yang dapet cobaan, dia bilang Alhamdulillah dulu,
kenapa? Karena dia tau, akan Allah ganti kesedihan dengan kebahagiaan”.mashaaAllah,
Inilah contoh orang yang menyikapi cinta dengan benar sahabat. Dia sedih tapi
gak berkepanjangan, karena dia tau sedihnya bermuara pada cinta Allah yang
lebih besar. Sudahkah kita begitu? Hmm (aku sudah belum yaa hehe)
Lagu
ini meminta kita untuk lebih baik dan lebih bijak dalam menyikapi cinta dengan
setiap waktu yang kita jalani dengan cara gunakan setiap waktu untuk hal yang
bermanfaat. Agar cintanya bukan cuma cinta
dunia, bukan cinta-cintaan sama manusia aja, tapi cintanya sama yang empunya
segalanya, termasuk yang punya saya dan sahabat-sahabat semuanya dan pastinya
supaya kita gak merugi seperti apa yang tertulis di QS Al-Ashr 1:3 dibawah ini;
“demi waktu. Sesungguhnya manusia dalam
keadaan rugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih serta saling
menasihati tentang kebenaran dan kesabaran” (Al-Ashr:1-3)
Kemarin saya menghadiri
acara kajian di masjid kabupaten, pas banget ceritanya soal cinta juga. Saat itu
ustadz berkata demikian “ketahuilah asmara itu membangkitkan, tapi asmara itu
tak terkendali jika selalu ingat “kamu””. Kamu yang dimaksud disini adalah
manusia. Cinta kita belum sempurna dan kita belum bisa mengindahkan cinta jika
belum bisa mengendalikan asmara atau cinta itu sendiri. Selain itu ustadz
mengajukan pertanyaan begini “apa yang kamu suka?”, pertanyaan sepele, mungkin
kita bisa mengatakan suka musik, makan, tidur dll, tapi ternyata pertanyaan itu
menunjukkan bagaimana kita sebenarnya, terlebih mengenai sudahkah cinta kita letakan pada tempat yang benar, memposisikan cinta
yang utama dengan benar, hanya pada Rabb kita atau kepada yang lain. disitu
saya sendiri jadi tersindir, sedih.
Setelah
pembahasan diatas kita bisa menyimpukan bahwa “cinta itu seperti yang kau jalani”. Kita bisa mengartikan cinta
sebebas yang kita mau. Tapi sejatinya cinta itu indah jika kita benar dalam
menyikapinya.
Wassalamu’alaikum

Tidak ada komentar:
Posting Komentar